Mempertahankan Bahasa Ibu sebagai Upaya Meningkatkan Ketahanan Budaya

Gambar

Oleh: Yaya Mulya Mantri, S.Hum©

 

Memahami Ketahanan Budaya

Ketahanan nasional meliputi berbagai aspek yang disebut asta gatra, diantaranya adalah gatra geografi, kekayaan alam, kependudukan, ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, dan pertahanan keamanan (Lemhanas 1997). Dalam teori ketahanan nasional, ketahanan budaya masuk ke dalam konsep asta gatra yang ke tujuh. Budaya perlu masuk ke dalam konsep ini, karena pada hakikatnya budaya memiliki nilai-nilai luhur dari para nenek moyang bangsa Indonesia yang perlu dijaga keberadaannya. Keberagaman suku dan etnis di Indonesia menjadikan Indonesia sebagai bangsa yang kaya akan budaya dan bahasa. Saat ini terkesan adanya pemilahan antara budaya dan bahasa, padahal sebenarnya bahasa merupakan bagian dari budaya. Oleh karena itu, berbicara mengenai ketahanan budaya, tidak akan lepas kaitannya dengan bahasa.

Untuk memahami makna dari ketahanan budaya, berikut ini adalah pengertian ketahanan budaya menurut Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhanas):

Ketahanan sosial budaya diartikan sebagai kondisi sosial budaya bangsa yang berisi keuletan dan ketangguhan yang mengandung kemampuan mengembangkan kekuatan nasional di dalam menghadapi dan mengatasi segala tantangan, ancaman, hambatan serta gangguan, baik yang datang dari luar maupun dari dalam, yang langsung membahayakan kelangsungan kehidupan sosial budaya bangsa dan Negara Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 (Lemhanas 1997:75).

Dari pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa ketahanan budaya adalah upaya untuk menjaga eksistensi sosial budaya bangsa Indonesia dari ancaman, tantangan, hambatan, dan gangguan dari luar dan dalam. Untuk kasus bahasa, ratusan bahasa daerah (BD) yang berperan sabagai bahasa ibu (mother tongue) di Indonesia terancam punah. Dalam menghadapi kasus ini, konstitusi  Negara (UUD 1945) mengaturnya dalam Pasal 32 ayat 2 UUD 1945 yang berbunyi “Negara menghormati dan memelihara bahasa daerah sebagai kekayaan budaya nasional”. Oleh karena itu, peran aktif pemerintah baik itu pemerintah pusat maupun pemerintah daerah dalam menjaga keberadaan BD sangat diharapkan.

Kondisi Bahasa Daerah (Bahasa Ibu) di Indonesia

Indonesia memiliki sekitar 600 bahasa daerah (BD) yang berperan sebagai bahasa ibu, dengan jumlah penutur yang sangat beragam dari puluhan ribu sampai puluhan juta. Di antara semua BD tersebut, hanya delapan BD yang dikategorikan BD utama, yaitu bahasa Jawa, Sunda, Madura, Minangkabau, Bugis, Batak, Banjar, dan Bali. Urutan ini berdasarkan jumlah penuturnya – secara empiris, semakin besar penutur dan beragam ranah pemakaiannya, maka semakin tinggi vitalitas BD tersebut (Alwasilah 2006:69).

Dari delapan BD utama mengerucut menjadi tiga BD berdasarkan publikasinya, yaitu Sunda, Jawa, dan Bali. Bahasa Bali lebih banyak publikasinya melalui kegiatan penulisan dan penerbitan walaupun jumlah penuturnya sedikit dibanding lima bahasa lainnya (Madura, Minangkabau, Bugis, dan Batak) (Pikiran Rakyat 2006). Penulisan tersebut berupa buku ilmiah, karya sastra, majalah, surat kabar, dan lainnya.

Di zaman informasi dan elektronik saat ini, keadaan penutur BD di kalangan kaum muda sedang diserang oleh kekuataan multimedia. Mereka dikeroyok ramai-ramai oleh bahasa-bahasa asing melalaui media, diantaranya televisi dan internet. Salah satu contohnya adalah siaran berita berbahasa mandarin di salah satu stasiun televisi swasta nasional. Jika kondisi seperti ini dibiarkan, akan bermunculan televisi lain yang memaksa kita berubah dari masyarakat bilingual (bahasa daerah dan bahasa nasional) menjadi masyarakat multilingual (Alwasilah 2006:54).

Kondisi yang sama juga terjadi di dunia akademik, khususnya di bangku perkuliahan. Selama ini ada kecenderungan mahasiswa jurusan sastra Indonesia dan sastra asing (Inggris, Perancis, Jerman, Jepang, dan Arab) tidak diperkenalkan kepada sastra daerah. Para penyusun kurikulum dan silabus menganggap hal itu tidak perlu dan merupakan garapan jurusan sastra daerah saja. Kondisi ini mendapat kritik dari seorang guru besar linguistik Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), A. Chaedar Alwasilah (2006) untuk kasus bahasa Sunda sebagai BD:

Rasanya naif jika mahasiswa etnis Sunda jurusan sastra Inggris yang akrab dengan karya Shakespeare tidak membaca karya Ahmad Bakri (Alwasilah 2006:29).

Alwasilah menambahkan, bahwa dalam pendidikan berlaku prinsip “Dari sini ke sana, dari dekat ke jauh, dan dari akrab ke asing”. Pada satu atau dua semester pertama mahasiswa jurusan sastra Indonesia dan asing diperkenalkan dahulu terhadap karya sastra daerahnya karena mereka lebih mengenal budaya daerahnya dibandingkan dengan budaya asing. Setelah mampu mengapresiasi sastra daerah dan Indonesia, mereka akan mampu mengapresiasi sastra asing secara bertahap (Alwasilah 2006:29-30).

 

Mempertahankan Bahasa Ibu sebagai Upaya Meningkatkan Ketahanan Budaya

Melihat kondisi bahasa ibu di atas, maka sangat diperlukan upaya untuk mempertahankan bahasa ibu sebagai wujud ketahanan budaya. Keadaan seperti ini terjadi bukan hanya di Indonesia, melainkan di seluruh penjuru dunia. Oleh karena itu, pada 1951 UNESCO merekomendasikan penggunaan bahasa ibu sebagai bahasa pengantar pendidikan dan menetapkan 21 Februari sebagai hari bahasa ibu internasional. Hal itu merupakan langkah konkret pemertahanan dan pemberdayaan bahasa ibu. Crystal (1997) mendefinisikan pemertahanan bahasa (language maintenance) sebagai upaya yang disengaja, diantaranya yaitu: (1) mewujudkan diversitas kultural, (2) memelihara identitas etnis, (3) memungkinkan adaptabilitas sosial, (4) secara psikologis menambah rasa aman bagi anak, dan (5) meningkatkan kepekaan linguistis. Kelima poin tersebut satu sama lain saling terkait dengan konteks kebudayaan. Oleh karena itu, untuk mewujudkan ketahanan budaya perlu diadakan upaya pemertahanan BD (sebagai bahasa ibu) dengan langkah-langkah sebagai berikut:

Pertama, BD akan bertahan jika prestasi dan prestise para penuturnya berkibar minimal di ranah daerahnya sampai ke ranah nasional bahkan internasional. Salah satu upayanya yaitu menerjemahkan karya sastra daerah ke bahasa Indonesia dan bahasa Inggris, contoh terbitnya buku kumpulan puisi Sunda yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dengan judul “Modern Sundanese Poetry: Voices from West Java in Sundanese and English”.

Kedua, BD akan bertahan jika kemakmuran para penuturnya unggul secara kolektif minimal di ranah daerahnya. Kelompok yang menguasai sumber-sumber ekonomi akan lebih mudah menguasai kunci-kunci sosial budaya. Seperti yang dilakukan oleh Pemerintah Inggris yang mendirikan dan membiayai The British Council sampai keberadaannya tersebar di seluruh penjuru dunia. Kapan pemerintah-pemerintah daerah di Indonesia melakukan ini?

Ketiga, BD akan bertahan jika para penuturnya aktif menggunakannya dalam media tulis. Disadari atau tidak, globalisasi saat ini telah menyapu kearifan lokal. Oleh karena itu, membaca, mengkritik, dan menulis ulang tulisan BD sangat perlu untuk dilakukan.

Keempat, BD akan bertahan jika para penuturnya aktif menggunakan teknologi elektronik. Untuk mengimbangi bahasa Indonesia dan asing, para penutur BD perlu memanfaatkan teknologi. Kehadiran televisi lokal yang tersebar di Indonesia merupakan potensi yang perlu dikembangkan dengan mengdepankan BD sebagai bahasa pengantarnya.

Kelima, BD akan bertahan jika bahasa pengantar dalam pendidikan menggunakan BD. Hal ini sesuai dengan fatwa global UNESCO pada tahun 1951 yang mengharuskan bahasa pengantar pendidikan dalam bahasa ibu. Alasan UNESCO mengeluarkan fatwa tersebut adalah (1) secara psikologi, siswa memiliki kelekatan emosional terhadap bahasa ibu, (2) secara sosiologis, bahasa ibu dipergunakan secara produktif di luar kelas dan dalam keluarga, dan (3) secara edukatif, pengetahuan akan mudah dicerna oleh siswa manakala disajikan melalui bahasa yang telah diakrabinya (Alwasilah 2006:77).

Keenam, BD akan bertahan jika tujuan pengajaran BD di sekolah-sekolah diorientasikan kepada kefasihan, yakni pembiasaan komunikasi bukan ketepatan dalam struktur BD. Generasi muda saat ini cenderung malas menggunakan BD karena ada perasaan takut salah dalam mengaplikasikan struktur BD. Mereka takut melanggar aturan-aturan struktur BD yang dinilai rumit dan kompleks. Seperti penggunaan bahasa kromo, ngoko dalam bahasa Jawa dan undak-usuk basa dalam bahasa Sunda.

Keenam poin di atas hanyalah sedikit solusi yang ditawarkan. Tentu tidaklah mudah mempertahankan BD sebagai bahasa ibu, selain karena derasnya arus globalisasi, sifat kebahasaan yang arbitrary dan dinamis juga berpengaruh dalam eksistensi BD di Indonesia. Namun itu semua bukanlah alasan untuk tidak mempertahankan BD, karena BD adalah kekayaan lokal Indonesia yang harus dijaga sesuai dengan amanat Pasal 32 ayat 2 UUD 1945.

Referensi

Alwasilah, A. Chaedar. 2006. Pokoknya Sunda Interpretasi Untuk Aksi. Bandung:

Kiblat Buku Utama.

Alwasilah, A. Chaedar. 2006. Tujuh Ayat Penangkal Kematian Bahasa Sunda.

Harian Umum Pikiran Rakyat [16 Februari 2006].

Crystal, David. 1997. English as a Global Language. Cambridge: Cambridge

University Press.

Fatwa, AM.  2009. Potret Konstitusi Pasca Amandemen UUD 1945. Jakarta:

Kompas.

Lemhanas. 1997. Ketahanan Nasional. Jakarta: Balai Pustaka.


© Mahasiswa S2 Ketahanan Nasional UGM

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s