Potret Pemilukada Jawa Barat 2013 “Pemilih Cerdas: Visi Misinya mana???”

Gambar

Saat ini warga Jawa Barat sedang menunggu “Pesta Demokrasi” yaitu Pemilukada Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Barat. Kondisi seperti ini ditandai dengan baligo-baligo, poster, dan alat peraga kampanye lainnya yang terpajang “menghiasi” seluruh wilayah Jawa Barat. Bandung, sebagai ibukota Provinsi Jawa Barat merupakan cermin dari potret demokrasi Jawa Barat. Jika dibandingkan dengan kota / kabupaten lain di Jawa Barat, Bandung menjadi kota yang paling banyak “Hiasan Kota” alat peraga kampanye ini. Mulai dari “Babarengan, Dekat Melayani, Jabar Mulia, Dongdang lima” dan lain sebagainya.

Namun “Hiasan” tersebut tidak menambah keindahan kota Bandung. Berdasarkan liputan pikiran rakyat, beberapa spanduk dan poster kampanye pasangan Calon Gubernur (Cagub) dan Wakil Gubernur (Cawagub) Jabar dipasang sembarangan tanpa mengindahkan nilai estetika dan etika. Contohnya di Jalan IR H Djuanda, poster pasangan Cagub-Cawagub Jabar, Rieke Dyah Pitaloka dan Teten Masduki terlihat diikat pada Penerangan Jalan Umum (PJU) di Perempatan Simpang Dago dengan menggunakan tali kawat. Keluhan muncul dari seorang petugas polisi lalu lintas yang kesal karena poster itu menempel dekat rambu lalu lintas. Selain itu, penggunaan baligo kampanye pasangan Dede Yusuf dan Lex Lesmana dipasang dengan kerangka bambu di depan Gedung Telkomsel di sekitar lapangan Gasibu. Penggunaan kerangka bambu untuk baligo rentan mengalami pelapukan serta roboh tertiup angin. Alih-alih menyampaikan pesan kampanye kepada warga, ancaman tertimpa kerangka bambu baligo justru mengintai para pengguna jalan. Fasilitas jembatan penyeberangan pun tak luput dari pemasangan spanduk kampanye. Sebuah spanduk pasangan Irianto MS Syafiuddin (Yance) dan Tatang Farhanul Hakim dipasang di jembatan penyeberangan depan Pasar Kosambi. Tali yang sudah kendor membuat spanduk itu melorot.

Kondisi seperti ini bukanlah yang pertama, pada 5 tahun yang lalu pun terjadi kondisi yang sama. Namun untuk tahun ini nampaknya lebih semrawut karena Cagub-Cawagubnya lebih banyak yaitu 5 pasangan, sedangkan 5 tahun lalu hanya 3 pasangan. Kebiasaan seperti ini nampaknya akan terus terulang setiap 5 tahun jika tidak ada tindakan yang nyata dan tegas.

Melihat kondisi seperti ini, budayawan Sunda, Hawe Setiawan pun angkat bicara. Melalui Pikiran-Rakyat ia menyatakan keprihatinan atas terabaikannya nilai estetika dalam pemasangan alat peraga kampanye. “Bagusnya ada pengaturan alat peraga kampanye supaya tak mengganggu pemandangan visual. Selama ini pemasangannya sembarangan saja,”. Menurutnya, secara visual penonjolan figur tertentu terasa mengganggu serta mencerminkan politik yang kurang hormat terhadap lingkungan.

“Beberapa poster cagub dan cawagub ada yang dipasang di kebun teh yang mengganggu latar belakang pemandangannya,”ujar Hawe. Dia pun mempertanyakan, penonjolan atribut kepartaian yang mendominasi alat peraga kampanye. Dikatakan Hawe, penonjolan figur atau atribut kepartaian dalam alat peraga kampanye malah menjadi paradoks.

“Di satu sisi ingin terlihat dekat dengan rakyat, tetapi apa yang dikenakan seperti seragam serta atribut lain malah menujukkan berjarak dengan rakyat,”kata Hawe. Baginya, kampanye yang gencar dilakukan para kandidat pada 2013, tak ada kesan yang baru dan hanya mengulang-ulang saja.

Masyarakat Jawa Barat sebenarnya tidak butuh poster, spanduk, baligo, dan alat peraga kampanye lainnya. Tidak akan menjamin spanduk dan baligo yang paling banyak dipajang akan mendapatkan suara yang banyak pula. Sebaiknya daripada “perang baligo” lebih baik “perang visi-misi”. Sampai saat ini ke-5 pasang Cagub-Cawagub belum memaparkan visi-misinya ke publik.

Pengamat politik sekaligus tokoh masyarakat Sunda, Tjeje Hidayat Padmadinata mengemukakan bahwa ia sering mendapat keluhan baik langsung maupun melalui pesan singkat yang mempertanyakan cara menjadi pemilih cerdas sementara visi dan misi para calon saja tidak disampaikan secara terbuka.

“Yang ada saat ini para tim sukses tampaknya hanya memberi tahu ini pasangannya, ini nomornya tetapi kita tidak tahu apa visi misi kelima kandidat. Ibarat berjualan, barangnya kan harus jelas tetapi penjualnya hanya menyebut nama barang saja. Masyarakat masih tidak tahu apa yang terjadi kalau pasangan yang mereka pilih nantinya akan menang,” kata Tjeje.

Hal ini menurut Tjeje menjadi kritik bagi para tim sukses dan setiap pasangan calon. Tim sukses secara sungguh-sungguh harus bertanggung jawab atas setiap pasangan yang mereka kenalkan. Masyarakat luas saat ini yang mengikuti perkembangan pilgub Jabar menurut Tjeje rata-rata masih tidak tahu.

Oleh karena itu, untuk mewujudkan demokrasi sehat dan pemilih cerdas, sebaiknya mulai saat ini tim sukses ke-5 pasangan Cagub-Cawagub Jabar mempublikasikan visi-misinya, bukan hanya menyebar foto dan nomornya. Daripada buang-buang uang untuk pasang iklan di koran dengan memajang foto dan nomor, lebih baik pasang visi-misi, foto dan nomornya kecil saja. Stop mengotori kota / kabupaten di Jawa Barat dengan foto-foto Cagub-Cawagub mulai saat ini!

Source: pikiran-rakyat.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s