Pandangan Ibn Khaldun tentang Imam Mahdi

GambarPada saat ini satu per satu ciri-ciri kiamat / akhir zaman sudah bermunculan. Keadaan ini membuat umat Muslim resah dan sebagian dari mereka percaya dan meyakini akan datangnya Juru Selamat atau Messiah yang dikenal dengan sebutan Imam Mahdi. Kedatangan Imam Mahdi ini diperkuat dengan buku-buku yang menjelaskan tentang Imam Mahdi, bahkan sampai film ilmiah karya Harun Yahya pun muncul sebagai penguat akan datangnya Imam Mahdi. Apakah benar Imam Mahdi itu akan datang? Atau apakah hanya mitos semata? Pada kesempatan ini, saya akan sedikit mengulas pandangan Ibn Khaldun tentang Imam Mahdi.

Ibn khaldun lahir ketika keadaan masyarakat muslim sedang sangat kritis. Kaum muslimin saat itu diserang dari tiga arah penjuru pada saat yang hampir bersamaan. Dari arah timur ada Bangsa Mongol yang menyerang,  arah utara tentara Salib, dan di arah barat ada orang-orang Spanyol.  Keadaan yang kritis ini membuat putus asa kaum muslimin, sehingga muncullah aliran-aliran yang meyakini akan datangnya seorang tokoh super hero yang disebut Juru Selamat atau Messiah.  Tokoh tersebut mereka beri nama al-Mahdi (al-Mahdi al-Muntazar). Aliran semacam ini juga muncul di Indonesia pada abad XIX-XX, khususnya di tanah Jawa pada masa kolonial Belanda.

Sejarah mencatat, munculnya faham Imam Mahdi  di tengah-tengah masyarakat muslim berawal dari konflik politik yang bermotif keagamaan. Akidah Tauhid umat muslim pada saat itu mulai luntur terutama setelah Khalifah Usman bin Affan terbunuh. Paska kekhalifahan Usman bin Affan, muncul sekte-sekte dalam Islam dengan doktrin yang berbeda-beda. Kekalahan kelompok Syiah di bidang politik dan militer pada masa Bani Umayyah dan Bani Abbasiyah merupakan faktor utama lahirnya mitos tentang Imam Mahdi.

Dengan demikian, gerakan faham Mahdiisme dapat dikatakan sebagai gerakan kaum tertindas dan masyarakat yang belum maju. Lahirnya Mahdiisme juga didorong oleh ambisi ingin merebut kekuasaan politik dari sekian banyak kelompok Muslim yang saling bermusuhan. Selain itu, faham ini juga memunculkan tokoh-tokoh yang mengaku sebagai Imam Mahdi. Terjadi transformasi Mahdiisme yang semula sebagai doktrin politik menjadi doktrin teologi. Namun tokoh-tokoh yang mengaku tersebut sebagian besar gagal dalam memimpin pengikutnya, bahkan menimbulkan keresahan yang berkepanjangan.

Ibn khaldun sebagai seorang ilmuwan Muslim dengan tegas menolak faham Mahdiisme. Imam Mahdi yang diyakini oleh para penganut Mahdiisme adalah Nabi Isa, menurut Ibn Khaldun idealnya Nabi cocok hidupnya pada waktu dan tempat di mana Nabi itu hidup.

Wallahua’lam.

Source:

Affandi, Hakimul Ikhwan. 2004. Akar Konflik Sepanjang Zaman Elaborasi Pemikiran Ibn Khaldun. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s