Ibn Khaldun the great Muslim philosopher (1332-1395)

GambarIbn Khaldun dikenal sebagai seorang sosiolog dan teoritikus sejarah. Di dalam bukunya Muqaddimah –yang diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa— Ibn khaldun banyak menelurkan teori-teori dan analisis tentang sosiologi, politik, ekonomi, dan juga sejarah. Ia juga dikenal sebagai filsuf Muslim selain Abu Nasr al-Farabi (873-950), Abu Ali Husain Ibn SIna (980-1-37), dan Abu al-Walid Ibn Rusyd (1126-1198). Namun sebagai filsuf, ia tidak begitu populer karena pemikirannya banyak yang mengkritik bahkan memusuhi filsafat. Seperti Kant, Ibn Khaldun berpendapat bahwa filsafat itu suatu kemustahilan.

Ibn Khaldun dengan tegas mengakui adanya keterbatasan akal, karena menurutnya filsafat dan teori ilmu pengetahuan mempunyai banyak kelemahan, diantaranya keterbatasan akal dan pikiran dalam menjangkau berbagai fenomena. Namun bukan berarti hal-hal yang tidak dapat dijangkau oleh akal itu tidak ada, seperti ketuhanan, eskatologi, kerohanian, wahyu, dan kenabian. Dalam menghadapi berbagai fenomena yang tidak dapat dijangkau oleh akal, Ibn Khaldun dengan tegas menyatakan bahwa akal tidak dapat menjelaskan sebab-akibat / asal-muasal fenomena-fenomena tersebut.

Ibn Khaldun sering mengkritik teori-teori filsafat dan para filsuf yang hendak menjadikan filsafat sebagai media menggoyahkan masalah-masalah keimanan (ketuhanan). Kritikan-kritikannya pun bersifat filosofis dan mampu menyingkirkan pengaruh-pengaruh Aristoteles dan Neoplatonesma, sehingga kritikan tersebut dapat dikatakan filsafat pula. Oleh sebab itu sering ia dikatakan filsuf yang memusuhi filsafat, namun ada juga yang menyebutnya “the great Muslim philosopher.”

Bagaimana pandangan Ibn Khaldun terhadap filsuf Yunani seperti Aristoteles dan Plato? Ia menyetujui konsep Plato dan Aristoteles tentang logika, namun ia tidak setuju dengan konsep ketuhanan (teologi). Ia menilai konsep ketuhanan itu tidak mempunyai dasar yang kuat. Selanjutnya Ibn Khaldun mengutip  Plato yang dinilainya lebih wajar dalam mengemukakan masalah-masalah rohani.

“Argumen-argumen yang mengenai maujudat (existential), yang di balik persepsi indera, yakni rohaniat (spiritualia), oleh para filsuf disebut “ilmu ilahiat” atau metafisika. Inti rohani ini sama sekali tak bisa diketahui. Juga takkan sampai kita ke sana, dan takkan dapat dibuktikan dengan argument-argumen logika, sebab adanya abstraksi ma’qulat (intelibilia) dan maujudat (existential) dunia luar, hanyalah yang dapat kita persepsikan dengan indra. Kita tak dapat membuat persepsi mengenai inti rohani.

 

Di balik itu, realitas dan kodrat rohaniat itu adalah soal yang masih gaib, tak ada jalan buat kita akan dapat  mencapainya. Para peneliti dan para filsuf pun dengan jelas sudah ada yang berpendapat demikian. Mereka menegaskan bahwa segala yang bukan benda takkan dapat dibuktikan dengan argumen-argumen yang logis, yakni dengan premise-premise yang harus menjadi dasar utamanya. Filsuf besar seperti Plato juga mengatakan bahwa segala yang mengenai Ilahiat, orang takkan sampai pada suatu kepastian mutlak. Apa yang dikatakan orang tentang Ilahiat, itu hanyalah dugaan-dugaan. Di sinilah letak ketinggiam para nabi dan fungsi wahyu dan ini juga yang kiranya lebih sesuai dan lebih baik buat kesejahteraan hidup umat manusia….” (Ibn Khaldun dalam Affandi, 2004:45)

 

Source:

Affandi, Hakimul Ikhwan. 2004. Akar Konflik Sepanjang Zaman Elaborasi Pemikiran Ibn Khaldun. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s