Sjafruddin Prawiranegara, Pemberontak atau Pahlawan?

Gambar

Di hari bersejarah ini, 10 November dikenang sebagai hari Pahlawan oleh Bangsa Indonesia. 67 tahun yang lalu terjadi insiden berdarah yang terjadi di Surabaya. Pada kesempatan ini saya tidak akan mengangkat perjalanan sejarah tersebut karena sudah banyak yang membahasa tentang itu baik dalam referensi buku-buku sejarah maupun di internet. Saya akan mengangkat seorang tokoh pahlawan yang terlupakan oleh sebagian besar rakyat Indonesia. Siapakah dia?

Sjafrudin Prawiranegara, mungkin nama ini tidak populer, bila kita bertanya kepada masyarakat umum tidak akan banyak yang tahu siapa dia. Sjafrudin Prawiranegara, dia adalah seorang tokoh penting dalam terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).  Dia adalah orang yang berani mengambil langkah cepat dengan membentuk Pemerintah Darurat Republik Indonesia saat Soekarno-Hatta dan tokoh lainnya ditangkap oleh Belanda lewat Agresi Militer II Desember 1948. Pada saat itu Belanda berhasil melumpuhkan pemerintahan di Yogyakarta dan menyebarkan propaganda bahwa NKRI telah mati.

Dari pedalaman Sumatera Barat, Sjafruddin Prawiranegara segera bertindak. Ia mendirikan Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI). Perjuangannya selama lebih-kurang tujuh bulan berhasil membuktikan eksistensi Indonesia di mata dunia. Namun bicara tentang sosok Sjafruddin sama dengan membincangkan tokoh kontroversial. Dia dikenal bukan sebagai Ketua PDRI namun sebagai tokoh separatis yang ingin merebut pemerintahan NKRI.

Memang diakui, Sjafruddin mendukung Dewan Perjuangan yang digerakkan sekelompok pemimpin militer. Dari situ kemudian terbentuk Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) dan ia duduk sebagai perdana menterinya. Lewat PRRI, ia dicap memimpin gerakan separatis. Itulah noda hitam yang kemudian membuat nama dan perannya sebagai seorang pahlawan seperti “dilenyapkan” dari sejarah Indonesia.

Dalam buku “Mr. Sjafruddin Prawiranegara: Pemimpin Bangsa Dalam Pusaran Sejarah” beberapa tokoh seperti Am Fatwa, Adnan Buyung NAsution, dll menulis bahwa PRRI yang dipimpin Pak Sjaf bukanlah gerakan separatis dan bukan pula pemberontak. Seperti analisis pakar kemiliteran Salim Said, PRRI merupakan ide alternatif terhadap gagasan Bung Karno. Para tokohnya mau melaksanakan Pancasila secara lebih benar. “Antara lain tercermin dalam tuntutan mereka supaya PKI dibubarkan,” tulis dia (2011: 207).

Dengan istilah lain, A.M. Fatwa menyebut gagasan yang diusung PRRI melampaui zamannya. Diperlukan waktu hingga tujuh tahun untuk pembubaran PKI yang sedari awal ditolak oleh PRRI. Demikian pula gagasan tentang keterwakilan daerah, otonomi daerah, dan perimbangan keuangan pusat-daerah baru mulai terwujud setelah lebih dari 40 tahun kemudian.

Menurut catatan Adnan Buyung Nasution, keterlibatan Pak Sjaf dalam PRRI bukan untuk agresi militer melawan pemerintah pusat. Tidak pula gerakan separatis untuk memisahkan diri dari negara kesatuan Republik Indonesia. Upayanya merupakan political pressure terhadap Bung Karno agar mendengarkan aspirasi daerah yang menginginkan kembalinya pemerintahan dwitunggal Soekarno-Hatta.

Setelah Orde Lama tumbang, nama Sjafruddin tetap tidak direhabilitasi. Ia tetap dipandang sebagai duri dalam daging karena sikapnya yang konsisten mengoreksi penyelewengan-penyelewengan yang dilakukan pemerintah. Koreksinya yang paling kencang terhadap pemerintahan Soeharto adalah seputar maraknya korupsi dan penerapan Pancasila sebagai asas tunggal.

Benar kata Alexander Murray Palmer Haley, sejarah hanyalah milik mereka yang menang. Untuk yang kalah, seperti Sjafruddin, namanya hanya terdengar samar dan peran besarnya untuk negeri dipandang sebagai catatan kecil dalam buku sejarah. Sudah saatnya cap “pemimpin kelompok separatis” dan pemberontak terhadap kekuasaan yang sah pada diri Sjafruddin dan PRRI dihilangkan dari ingatan kolektif bangsa ini.

Selamat Hari Pahlawan.

Dari berbagai sumber.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s