Premordialisme Sunda (Asal Usul Nama Hari)

Gambar

Saat ini saya ingin membahas sedikit tentang primordial, apa itu primordial??

Secara etimologi berasal dari bahasa latin: primus artinya pertama dan ordiri artinya tenunan atau ikatan. Sedangkan primordialisme adalah sebuah pandangan atau paham yang memegang teguh hal-hal yang dibawa sejak kecil, baik mengenai tradisi, adat-istiadat, kepercayaan, maupun segala sesuatu yang ada di dalam lingkungan pertamanya (wikipedia).

Dalam konteks masyarakat heterogen yang ada di Indonesia, primordial sering ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Biasanya sikap primordial memiliki fungsi melestarikan budaya kelompoknya. Namun, di sisi lain sikap ini dapat membuat individu atau kelompok memiliki sikap etnosentrisme, yaitu suatu sikap yang cenderung bersifat subyektif dalam memandang budaya orang lain.

Bagaimana dengan mitos? Apakah mitos bagian dari primordial atau produk yang dihasilkan primodialisme? Mitos orang-orang Romawi mengatakan bahwa nenek moyang mereka meyakini ada tujuh benda langit yang berpengaruh di bumi. Yakni Saturnus sebagai hari pertama, disebut Saturday. Matahari, disebut Sun’s day atau Sunday. Bulan disebut Moon’s day atau Monday. Mars sebagai dewa perang, disebut Tiw’s day atau Tuesday. Merkurius sebagai dewa perdagangan, disebut Woden’s day atau Wednesday. Jupiter sebagai dewa petir atau raja para dewa, disebut Thor’s day atau Thursday. Dan Venus sebagai dewi kecantikan, disebut Freyja’s day atau Friday.

Sebagai orang Sunda, saya sedikit bersikap primordial dengan melihat asal-usul hari menurut budaya Sunda. Renungan religiusitas masyarakat Sunda menghasilkan mitos asal usul hari, disebut Dongéng Poé, sebagai salah satu bukti pandangan kosmologi waktu masyarakat Sunda dari masa lalu. Mitos ini menjadi teladan dalam mengharmoniskan rutinitas manusia dengan siklus waktu yang berada di luar kekuatan manusia.

Tulisan ini dikutip dari , seorang pegiat Studi Agama dan Budaya:

Hari pertama dalam mitos ini adalah Rebo atau Rabu dan disimbolkan sebagai sosok perempuan, bernama Robayah. Dia adalah Indung Poé atau Ibu Hari. Untuk keteraturan waktu di dunia, dia harus menyatukan diri dengan makhluk primordial lain melalui suatu perkawinan primordial.

Suami pertamanya bernama Jumantawal, atau Jumat, dari Naraga Ujung Lautan. Melahirkan keturunan pertama bernama Senén atau Senin. Tapi Jumantawal meninggalkannya untuk menuntut ilmu. Lalu Robayah kawin dengan Salasa, atau Selasa, dari Nagara Baratang Geni dan melahirkan Ahad, atau Minggu. Salasa pun pergi untuk mencari ilmu.

Kemudian Robayah bertemu Kemis, atau Kamis, dari Nagara Atas Angin dan melahirkan Saptu, atau Sabtu. Jika dirunut, maka Kemis adalah maru bagi Jumantawal dan Salasa. Dan memiliki anak téré (anak tiri) bernama Senén dan Ahad, sekaligus sebagai dulur téré (saudara tiri) bagi Saptu (Sabtu).

Menurut klasifikasi mitos dari Mircea Eliade, Dongéng Poé ini termasuk pada varian mitos tentang kesatuan primordial sebagai pasangan suami-istri. Robayah menjadi tokoh sentral yang berfungsi untuk menyempurnakan jumlah hari, bereksistensi untuk keharmonisan waktu di dunia manusia.

Sosok Robayah sebagai perempuan, mencerminkan pandangan Ki Sunda bahwa perempuan ditempatkan sebagai tokoh sentral dengan peran yang penting dalam hidup ini. Pandangan masyarakat Sunda terhadap peran penting perempuan dalam kehidupan, tergambar dalam tokoh penting Sunan Ambu dari Kahyangan. Tokoh ini selalu hadir dalam berbagai Pantun Sunda, bersosok perempuan yang bersifat keilahian dan disimbolkan sebagai dewi yang penuh kasih sayang dan selalu hadir untuk menolong manusia dari derita.

Dalam kehidupan masyarakat Sunda, seorang ibu sangat dimuliakan kedudukannya. Sikap ini selaras dengan pandangan Islam, seorang laki- laki wajib taat kepada ibunya 3 kali lebih utama dari sang ayah?

Berdasarkan hadist di bawah ini:

“Dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu, beliau berkata, “Seseorang datang kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Dan orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Ibumu.’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi,’ Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Kemudian ayahmu.’” (HR. Bukhari Muslim)

Melihat kasus ini, saya lebih bersifat primordial dengan memilih asal-usul nama hari menurut budaya (mitos) Sunda dibandingkan mitosnya orang Romawi. Tidak ada yang salah dengan sifat primordial atau berpikir primordialisme, selama kita bisa menyesuaikan diri dengan situasi dan lingkungan sekitar, selama tidak memandang rendah budaya lain.

Sources:

http://www.sunangunungdjati.com/blog/?p=10287

http://www.kalangsunda.net/apps/forums/topics/show/7678779

http://www.voa-islam.com/muslimah/article/2012/02/21/17835/bukti-keistimewaan-wanita-dalam-islam/

http://id.wikipedia.org/wiki/Primordialisme

One thought on “Premordialisme Sunda (Asal Usul Nama Hari)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s