Marhaban Yaa Ramadhan 1433 H

Tulisan ini saya dapatkan dari facebook Wulan Sari Part V

Selamat membaca….

Sahabat, Alhamdulillah semoga di Bulan Ramadhan yang penuh berkah, ampunan dan hadiah ini kita mampu mengoptimalkan setiap detik waktu untuk beramal sholeh. Namun jangan salah di Bulan Ramadhan juga kita diuji Intelektual kita, Emosional kita serta Spiritual kita SETIAP HARI karena hadiah yang akan kita peroleh super istimewa dicuci habis segala dosa dan khilaf kita yang telah lampau dan yang akan datang dan jaminan gak akan tersentuh Api Neraka, apa gak ueeeenak itu namanya.

Nah ternyata sejak masuk Tanggal 1 Ramadhan kita telah diuji kecerdasan akal (intelektual) kita, apa itu ? silahkan baca paparan ilmiah UJIAN TANGGAL SATU dibawah ini:

UJIAN TANGGAL SATU“ LUCU ! “, itulah yang mungkin bisa dikatakan oleh orang-orang awam setiap kali kita memulai TANGGAL SATU Ramadhan dan TANGGAL SATU Syawal, lha bagaimana gak lucu itu kan pelajaran setiap tahun yang diulang-ulang gak tau sampai kapan sampai kita bosen dan akhirnya kita bilang LUCU.Lha yang lebih lucu lagi, seluruh pakar yang katanya sangat kompeten duduk di satu meja membahas MASALAH TANGGAL SATU yang jelas-jelas sangat-sangat EXACT (Pasti) itu kok bisa hasilnya BEDA. Kalo anak TK ditanya 1 x 1, pasti jawabnya tegas 1, lha kita ditanya 1 x 1 kok jawabnya kondisional bisa 2 bisa juga 11, itu apa bukan namanya DAGELAN ( sandiwara ) ?

Nah ketika kita baru akan masuk tanggal 1 Ramadhan kita diuji intelektual kita untuk MEMILIH, kenapa ? karena penentuan tanggal 1 Ramadhan itu jelas-jelas ILMU PASTI tapi sekarang menjadi ILMU ABU-ABU. Disebut ILMU PASTI karena untuk menentukan tanggal 1 bulan apa saja, dari dulu sampai sekarang sudah ditemukan RUMUS untuk menghitungnya dan ALAT untuk melihatnya, dari dulu sampai sekarang TIDAK AKAN pernah meleset karena itu sudah disepakati secara INTERNASIONAL, bukan hanya untuk menentukan tanggal satu saja, menentukan saat ini disini JAM BERAPA dan diseluruh belahan dunia yang lain JAM BERAPA itu saja sudah SANGAT AKURAT, apalagi saat ini kita didukung dengan peralatan Astronomi yang SANGAT CANGGIH, lho kok bisanya menentukan TANGGAL SATU Ramadhan hasilnya BEDA ? kok tanggal 25 Desember gak pernah beda ya ? ada apa gerangan ? ya pasti ada udang dibalik Iwak Peyek ! he he he…

Disebut ILMU ABU ABU karena tidak pernah terjadi perbedaan ketika kita menentukan HARI LIBUR NASIONAL, maka ILMU yang jelas PASTINYA itu menjadi ABU-ABU karena ada EGOISME KELOMPOK , AROGANSI KEPEMIMPINAN dan KEPENTINGAN POLITIK yang bisa kita ringkas menjadi satu masalah yang kita sebut sebagai BELENGGU KEJAMA’AHAN. Nah disinilah ketika kita SALAH PILIH tanggal 1 Ramadhan maka dipastikan kita akan salah pilih disaat 1 Syawal nanti kalo kita pake ILMU ABU-ABU.Apa akibatnya ketika kita SALAH PILIH 1 Ramadhan, kita akan jatuh dalam sebuah PERBUATAN HARAM, harusnya hari itu kita puasa tapi kita belum puasa dan harusnya hari itu kita Hari Raya justri kita masih berpuasa.

Wah… ini kan makin MEMPERKERUH SUASANA nih…, biarlah kita memulai puasa dengan KEYAKINAN kita masing-masing, kan masing-masing kita PUNYA IMAM yang harus kita taati, itu kan wilayah IMAM kita masing-masing, gak usahlah kita saling menyalahkan, yang penting kita semua puasa jangan sampai gak ! itulah alasan-alasan kita yang selalu ingin bertindak INSTAN dan MEMBEBEK saja dalam urusan Agama tanpa mengoptimalkan FUNGSI AKAL sebagai karunia terbesar dari Allah SWT.

Sahabat, mari kita jernihkan sejenak hati kita lalu coba optimalkan sedikit Akal kita, untuk mengurai ‘Benang Kusut’ Ujian Tanggal Satu, karena kita akan MEMILIH SATU JAWABAN yang memuaskan AKAL kita dan sesuai dengan PETUNJUK yang diberikan oleh Allah SWT. Karena MEMILIH itu adalah KONSEKUENSI PRIBADI bukan KONSEKUENSI JAMA’AH atau IMAM, karena kalo kita SALAH PILIH atau melakukan DOSA itu ya tanggung jawab kita sendiri bukan tanggung jawab Pemimpin kita atau Orang lain, coba analisis Ayat-Ayat ini :

“ Dan mereka semua akan berkumpul menghadap ke hadirat Allah. Lalu berkata para pengikut kepada pemimpinnya: “Sesungguhnya kami dahulu adalah pengikut-pengikutmu. Maka dapatkah kamu menghindarkan kami dari azab Allah barang sedikit? Para pemimpin itu menjawab: “Seandainya Allah memberi petunjuk kepada kami, niscaya kami akan memberitahukan caranya kepadamu. Kita ini sama saja, mau mengeluh atau bersabar. Sedikitpun, kita tidak mempunyai tempat untuk melarikan diri.” [QS. Ibrahim: 21]

“Dan orang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Dan jika seseorang yang berat dosanya memanggil (orang lian) untuk memikul dosanya itu, tiadalah akan dipikulkan untuknya sedikitpun, meskipun (yang dipanggilnya itu) kaum kerabatnya. Sesungguhnya yang dapat kamu beri peringatan hanya orang-orang yang takut kepada azdab Tuhanya (sekalipun) mereka tidak melihatNya. Dan barang siapa yang mensucikan dirinya, sesungguhnya ia mensucikan untuk dirinya sendiri. Dan kepada Allah lah kembali(mu)”. ( Q.S. QS. Fatir 18 )

“Dan tidaklah seorang membuat dosa melainkan kemudharatanya (dosanya) kembali kepada dirinya sendiri; dan seseorang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain” ( QS. al-Anam 164 ).

“ Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggung-jawabannya (masing-masing)”. [QS. Al Israa’: 36].Jadi dari ayat-ayat diatas kita DILARANG MEMBEBEK begitu saja kepada siapapun (Ulama’, Kyai, Ustadz, Ajengan, Syeikh, Presiden) tanpa terlebih dahulu kita MENCARI INFORMASI dengan mengoptimalkan AKAL dan menelusuri PETUNJUK Al-Qur’an.Baik

Sahabat , mari kita urai ‘Benang Kusut’ Ujian Tanggal Satu itu…… Jika secara keumatan tidak ada yang mampu menyelesaikan masalah ini, maka umat Islam harus pandai-pandai mengambil hikmah secara pribadi, agar kita tidak menjadi korban sia-sia. Dan, kita berharap, mudah-mudahan Allah segera mengirimkan pemimpin yang memiliki kapabilitas dan integritas yang bisa menyatukan umat, demi kemaslahatan bersama.

Bagaimanakah caranya agar kita selamat secara pribadi dan tidak menjadi korban kesia-siaan dari sebuah kelalaian ataupun ketidakpedulian? Tentu saja, harus memiliki pengetahuan tentang kasus ini, sebagaimana diajarkan dalam firman Allah di atas. Yang pertama, pahamilah kapan bulan Sya’ban berakhir. Yang jika kita merujuk ke pendapat para pakar Astronomi dari lembaga-lembaga berkompeten, hasilnya adalah sebagai berikut :

Menurut ahli Ilmu Falak PBNU KH Slamet Hambali, sebagaimana dikutip oleh website resmi PCNU Pekalongan, akhir Sya’ban 1433 Hijriyah jatuh pada Kamis (19/7). Demikian pula Muhammadiyah malah sudah mengumumkan bahwa akhir Sya’ban jatuh pada Kamis, 19 Juli 2012. Sedangkan, menurut pakar Astronomi Boscha, Dr Ir Moedji Raharto, akhir bulan Sya’ban akan terjadi pada Kamis, 19 Juli 2012, pukul 11.25 wib. Artinya, semua pihak sebenarnya sepakat, bahwa hari Kamis, 19 Juli 2012 itu bulan Sya’ban sudah berakhir, pada siang hari itu.

Masalahnya, karena habisnya adalah siang hari, maka pada saat matahari terbenam ketinggian bulan sabit sebagai penanda datangnya Ramadan masih berusia sekitar 6 jam, alias di bawah 2 derajat. Sehingga sangat mungkin tidak terlihat oleh mata telanjang. Apalagi kalo dikuatkan dengan FAKTA adanya informasi Team Rukyat yang MELIHAT HILAL secara kasat mata di beberapa tempat. Yang perlu kita pahamkan lebih lanjut adalah, bahwa waktu sahur untuk berpuasa esok hari itu masih sekitar 10 jam lagi.

Kita mengamati datangnya bulan sabit sekitar jam 6 sore, tapi waktu untuk berpuasa dimulai sekitar jam 4 pagi. Jadi, kalau pun jam 6 sore itu bulan belum kelihatan, sepuluh jam lagi pasti dia sudah sangat tinggi di atas horison, berusia sekitar 16 jam. Karena, sebenarnya malam itu Ramadan memang sudah datang..!

Maka, betapa sayangnya jika bulan penuh rahmat yang sangat mulia ini tidak kita sambut kedatangannya. Dan kita baru berpuasa esoknya pada tanggal 2 Ramadan. Sementara, Allah pun sudah memerintahkan agar kita segera berpuasa begitu bulan suci ini hadir. Kenapa kita mesti dibingungkan oleh bulan sabit sore hari ya, padahal puasanya kan baru esok pagi, ya kan ? he he he…..Bahwa perbedaan ini sebenarnya bukan soal penetapan ‘awal bulan’ Ramadan, melainkan penetapan ‘awal puasa’. Kalau soal awal bulan Ramadan, secara teknis sudah sangat jelas. Bahwa ketika bulan Sya’ban usai, seketika itu pula sudah masuk bulan Ramadan.

Dalam penanggalan Hijriyah, bulan Sya’ban adalah bulan ke-8, sedangkan Ramadan adalah bulan ke-9.Secara Astronomi, sudah pasti tidak ada jeda antara Sya’ban dan Ramadan. Dan itu bisa langsung dicek di angkasa. Yakni, Kamis pagi posisi bulan masih berada di sebelah kanan matahari. Namun, sesaat setelah pukul 11.25, posisi Bulan sudah berada di kiri matahari. Itu artinya, sudah memasuki fase baru, yakni Ramadan.

Sehingga menjadi aneh, secara astronomi, ketika SEMUA PIHAK sepakat bahwa Sya’ban sudah berakhir di KAMIS, 19 Juli 2012, tetapi 1 Ramadan ditetapkan jatuh pada hari SABTU, 21 Juli 2012. Jangan heran kalau lantas ada kawan saya yang bertanya: ‘’Kalau begitu hari JUM’AT, 20 Juli 2012 termasuk dalam bulan Sya’ban ataukah Ramadan, ataukah tidak punya Bulan?’’ tanyanya sambil garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

Penetapan seperti itu, sungguh tidak jelas. Dan membuat umat tambah bingung. Harusnya dibedakan antara ‘awal bulan’ dengan ‘awal puasa’. Ramadan sebagai bulan, sudah pasti telah masuk SESA’AT setelah ijtima’ (posisi segaris antara Bulan-Matahari-Bumi ). Dan bisa langsung diamati di angkasa dengan menggunakan peralatan astronomi, maupun simulasi metode hisab. Karena tidak mungkin ada ‘HARI ANTARA’ di peralihan Sya’ban dan Ramadan. Pilihannya hanya dua: masuk Sya’ban atau Ramadan.

Nah, ketika sudah disepakati Sya’ban telah habis Kamis siang, maka siang itu pula hilal sudah memasuki bulan Ramadan. Sehingga sore hari saat matahari tenggelam ‘hilal Ramadan’ sudah berumur 6 jam. Memang tidak akan terlihat oleh mata telanjang, saking tipisnya, tetapi, bulan Ramadan sudah masuk. Tinggal masalahnya: apakah akan berpuasa hari Jum’at ataukah hari Sabtu. Ini sudah bukan wilayah Astronomi atau Hisab Ilmu Falaq lagi, melainkan masalah fiqih ibadah puasa. Disinilah sebenarnya perbedaan itu muncul. Ada yang berpatokan pada hadits: “ jika hilal tidak kelihatan, maka genapkanlah “. Sehingga, karenanya ada yang berpuasa Hari Sabtu. Namun hadits ini menjadi sangat lemah untuk dipakai alasan karena dengan KACA MATA Ilmu dan Teknologi TERKINI menjadikan HILAL itu PASTI-PASTI KELIHATAN.Yang lainnya berpendapat: karena bulan Ramadan sudah masuk, maka WAJIB hukumnya untuk SEGERA berpuasa:

“ Bulan Ramadan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia. Dan berisi penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (kebaikan dan keburukan). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa… “[QS. Al Baqarah: 185]. Atas dasar ini kita berpuasa Hari Jum’at.Masalahnya menjadi clear.

Silakan kita memilih sesuai keyakinan kita sendiri-sendiri. (tapi ingat, salah pilih resiko tanggung sendiri)Kalo perbedaan itu dijelaskan dengan cara demikian, masyarakat luas akan bisa memahami dan menerima dengan lapang dada. Sayangnya, yang terjadi sangat rancu: campur aduk antara ‘awal bulan’ dengan ‘awal puasa’. Dan persoalannya menjadi merembet kemana-mana. Ada yang merasa dibodohi karena informasinya seperti ditutupi, ada yang merasa dibodohkan karena dianggap tidak bisa menghitung, padahal dia merasa sebagai pakar ilmu Falak. Dan, ada pula yang tak tahu harus melakukan apa, karena serba bingung.Jika, kondisinya clear seperti itu, perbedaan ini akan benar-benar membawa hikmah dan menjadi rahmat bagi umat Islam. Setiap orang menjadi paham duduk persoalannya. Dan terserah mereka mau memulai puasa Jum’at atau Sabtu, dengan dalilnya sendiri-sendiri.

Pertanggungjawabannya langsung kepada ilahi rabbi.Tetapi, kalau soal ketidak-jelasan hari Jum’at masuk Sya’ban atau Ramadan, itu pertanggung-jawabannya adalah secara Astronomi. Dan itu berlaku untuk seluruh penduduk Bumi, bukan hanya bagi umat Islam. Posisi Bulan tak akan bisa ditutup-tutupi dengan cara apa pun. Karena sungguh, Bulan tak pernah berbohong. Meskipun, sayangnya, Bulan tidak bisa ngomong. Jadi YANG BOHONG siapa dong ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s