KETULUSAN DAN PILKADA

Jakarta adalah Ibukota Negara Indonesia, semua kebijakan pemerintah pusat berasal dari kota tersebut, termasuk kebijakan kenaikan harga BBM yang sedang dibahas alot di DPR. Maka tak heran jika topik pemilihan Gubernur DKI Jakarta periode 2012-2017 menjadi headline surat kabar baik nasional maupun daerah. Bukan hanya surat kabar, media elektronik dan media online pun tak mau kalah mengulas tuntas tentang topik hangat ini. Berbicara tentang pemilihan Gubernur Jakarta, masih ingatkah kita pada masa pembukaan pendaftaran bakal calon Gubernur Jakarta periode tahun 2002-2007? Masih ingatkah dengan sosok tukang becak yang mencalonkan diri menjadi Gubernur DKI Jakarta? Sepuluh tahun yang lalu ada seseorang yang bernama Rasdullah berani mencalonkan diri sebagai Gubenur DKI Jakarta. Rasdullah bukanlah tukang becak sembarangan, walaupun ia hanya tukang becak dan bukan lulusan Sarjana atau Magister seperti para pejabat, ia memiliki jiwa pemimpin yang ingin mengubah Jakarta menjadi lebih baik. Walaupun tidak lolos menjadi calon gubernur pada saat itu, Rasdullah tetap seorang pemimpin bahkan ia berhasil menjadi “Presiden” tukang becak di daerahnya. Untuk mengingatkan memori kita ke sepuluh tahun silam, di bawah ini petikan wawancara Wimar Witoelar dengan Rasdullah:

Calon Gubernur DKI Jaya. Saya tidak sempat menemui Anda tapi saya kagum dan senang sekali setelah sekian tahun bisa bertemu. Bagaimana ceritanya sehingga Bapak bisa menjadi bakal calon gubernur?

Pertamanya, Mbak Wardah Hafidz, koordinator Urban Poor Consortium (UPC), di dalam rapat serikat becak Jakarta memberitahukan bahwa di gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) ada pencalonan gubernur. Kemudian Mbak Wardah menanyakan apakah ada atau tidak dari teman-teman kelompok penarik becak yang berkeinginan menjadi gubernur. Kawan-kawan kebingunggan. Jangankan untuk jadi gubernur, untuk menjadi lurah saja harus mempunyai sawah berhektar-hektar, harus punya banyak harta banyak.
Tapi Mbak Wardah mengatakan dengan adanya demokrasi maka penarik becak, penjual koran, semir sepatu bisa mencalokan diri menjadi gubernur DKI Jaya dan tidak ada biaya. Setelah Mbak Wardah memberitahukan hal tersebut, teman-teman langsung pada mengacungkan tangan. Akhirnya diputuskan lewat voting. Teman-teman yang kira-kira mampu untuk memimpin Jakarta memilih dirinya sendiri, sedangkan yang tidak mampu memilih temannya. Pada waktu itu saya yang mendapatkan suara terbanyak. Pada hari itu juga diiring sekitar 2.000 abang becak, saya ke kantor DPRD untuk mencalonkan diri.
Sampai di sana, dikerubuti banyak wartawan. Pencalonan saya sempat ditolak panitia dengan alasan tidak mempunyai ijazah dan tidak sekolah. Saya mengatakan, siapa yang mengatakan saya tidak sekolah. Sekolah ada dua jenis yaitu sekolah formal dan informal. Nah saya sekolah informal yang turun langsung ke lapangan sehingga tahu persis permasalahan-permasalahan masyarakat. Sedangkan bapak-bapak panitia sekolah formal yang memakai waktu. Kalau saya sekolah yang tidak pakai waktu. Siang – malam saya sekolah di lapangan. Ketemu pengemudi becak maka saya sekolah dengan pengemudi becak. Ketemu  penjual koran maka saya sekolah sama penjual koran. Jadi saya tahu persis permasalahan mereka. Kalau bapak-bapak yang di gedung-gedung mewah seperti di DPRD mengerti ada nyamuk tapi tidak mengerti bagaimana rasanya digigit nyamuk. Akhirnya teman-teman wartawan ikut mendesak dan panitia pendaftaran menerima pendaftaran saya.

Hebat sekali. Jadi walaupun ada syarat harus memiliki ijazah tapi akhirnya diterima. Apakah itu karena keyakinan Bapak?

Iya diterima dan sampai penyaringan ketujuh. Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN) juga menerima saya menanyakan visi dan misi saya. Wah saya tidak mengerti itu lalu saya tanya apa visi misi itu?

Apakah waktu itu pernah ada atau tidak tulisan-tulisan, catatan-catatan tentang visi misi?

Saya pokoknya polos saja. Yang saya tahu adalah di dalam hati saya ingin memimpin Jakarta supaya tidak amburadul. Saat itu diberitahu visi misi adalah bagaimana kerja bapak kalau nanti jadi gubernur. Saya mengatakan pertama-tama karena dari kalangan bawah maka orang miskin yang kita akan pedulikan lebih dulu. Kalau untuk kepedulian semua akan saya perdulikan tapi ini  akan seperti memimpin anak sendiri kalau yang sudah SMP, agak besar, maka yang masih kecil dulu yang diperhatikan.

Jadi Bapak selain menarik becak sudah banyak memperhatikan soal masyarakat sebelum pencalonan tersebut. Apakah itu umum diantara penarik becak atau Pak Rasdullah memang lebih dari yang lain?

Itu bukan pada penarik becak saja. Ada pengamen, joki, dan kaki lima. Pokoknya pekerjaan sektor informal yang dilarang pemerintah kita tetap membela teman-teman tadi karena manusia itu butuh hidup. Orang hidup itu harus makan dan makanan harus dibeli pakai duit. Duit-nya harus dicari dengan jalan kerja, sedangkan pemerintah, menteri tenaga kerja saja tidak bisa membuka lapangan kerja. Hanya bisa makan gaji busuk, tidak mengerti apa-apa. Orang Indonesia malah diekspor ke luar negeri. Di sana disiksa, dianiaya juragan-juragannya atau majikan-majikannya.

Sebenarnya masih panjang petikan wawancara Wimar Witoelar dengan Rasdullah, kutipan di atas hanyalah sebagian saja. Dari petikan wawancara di atas, kita dapat melihat ketulusan seorang Rasdullah menjadi calon Gubernur DKI Jakarta. Tidak ada unsur kepentingan partai politik, golongan, ataupun pengusaha. Ia murni mencalonkan diri menjadi Gubernur karena ingin mengubah Jakarta ke arah lebih baik. Namun sayang, kelebihan Rasdullah ini tidak memuluskan jalannya menuju DKI 1 karena iklim politik di Indonesia mengharuskan calon kepala daerah memiliki kecukupan materi sebagai “modal”. Sekarang tahun 2012, nampaknya tidak ada sosok Rasdullah lain yang mencalonkan jadi Gubernur ataupun Bupati / Walikota. “KETULUSAN” itulah modal yang dimiliki Rasdullah yang tidak dimiliki oleh mayoritas calon kepala daerah di Indonesia.

Oleh: Yaya Mulya Mantri

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s