Sheila

Sebut saja aku Sheila, aku anak ke tiga dari tiga bersaudara. Saudara kandungku dua-duanya laki-laki, aku anak perempuan satu-satunya. Sebagai anak bungsu dan anak perempuan satu-satunya, aku mendapat perhatian yang lebih bahkan cenderung berlebihan dari ayah dan ibuku. Walau kadang merasa tak nyaman dengan perlakuan mereka tetapi aku tetap menerimanya dengan baik sampai saat ini.
Peraturan yang ekstra ketat dan perlindungan yang tak boleh ditembus, aku terlahir sebagai anak perempuan satu-satunya di rumah ini. Mereka bilang ini keistimewaan dan kasih sayang mereka, tapi buktinya aku merasa ga nyaman??!! Tapi…bila dipikir kembali perlakuan mereka terhadap seorang Sheila cukup beralasan. Memang sulit ya jadi cewek??? Wah…susah banget ya jadi cewek! Musti inilah itulah banyak aturan!!!
Belum lagi banyak pesan-pesan pmenyeramkan khusus untuk perempuan remaja seperti aku, perkosaanlah, pelecehan seksual, sampai penjualan gadis-gadis ke Om Geoffrey sampai ke Om Bambang!!! Waduh…ga gampang ya jadi seorang Sheila??!!
Ternyata menjadi anak perempuan satu-satunya ga gampang and ga sulit juga, ya…gampang-gampang susah dech… . kalau aku ingat-ingat lagi masa kecilku, terlihat perbedaan yang contrast. Mainanku boneka semua, padahal aku kan ingin main mobil-mobil kayak kedua kakakku.
Memang, sejak masih bayi anak perempuan dibentuk menjadi lemah, dilindungi bukan melindungi, diatur bukan yang mengatur, buktinya mainanku ga ada yang bersifat masculine. Padahal ga salah kan anak perempuan main mobil-mobilan. So, memang pantas orang tua sangat khawatir terhadap anak perempuan  mereka apalagi kalau Cuma ada satu kayak aku ini.
Perlakuan istimewa di rumah yang menurutku lebay alias berlebihan ga beralasan  tuh!!! Tapi Cuma ada satu alasannya yaitu “kamu kan peempuan neng” itu kata mereka. Bukan hanya di rumah, di sekolah pun tak jauh berbeda.
“Ini Bapak Budi dan ini Ibu Budi.”
“Ayah pergi ke kantor dan Ibu pergi ke pasar.”
“Ayah membaca Koran dan ibu sedang memasak.”
Selalu seperti itu, tapi aku tak tahu apa pelajaran SD sekarang seperti itu juga??? Sejak kelas satu SD bahkan sejak TK kita sudah disuguhkan dengan bentuk seperti itu, pria bekerja dan wanita di rumah, ayah baca Koran ibu memasak, ya…kurang lebih seperti itu, wanita sebagai objek itu yang kurasakan sekarang bukan sebagai tukang ojek, sedangkan pria sebagai subjek.
Itulah system yang mereka bentuk untuk anak perempuan di rumah maupun di sekolah.
“Sheila…ayo kita berangkat! Ayah sudah hamper telat nih…”
“Baik ayah…”
Lamunan masa kecil hancur sudah dipecahkan oleh suara ayahku yang tampan dan berwibawa.
Hari ini hari senin tanggal 1Desember, seperti biasa ayah mengantarkanku dengan mobil carry biru 1998 kesayangannya. Ini hari pertama di bulan Desember dan hari senin pula, pasti arus lalu lintas tidak selancar biasanya. Ayahku yang kalem pasti akan sabar jika memang bakal terjadi traffic jam. Berbeda dengan ibuku yang cerewet bin bawel bin gandeng, ga apa-apa deh macet juga lagipula ibu ga ada di sini.
“Kayaknya Ayah bakalan telat, maaf ya Sheila ayah ga bisa ganter sampe kampus, turun di depan bunderan ga apa-apakan? Kampus kamu kan ga jauh dari sini”
“Iya…ga apa-apa deh Yah…”
Walaupun agak sedikit kecewa tapi ga apa-apa deh, ayahku kan selalu baik.
“Hati-hati ya Nak, ini buat ongkos” ayah menyelipkan sesuatu di tengah ritual cium tangan, ternyata selembar kertas berwarna hijau dengan nominal 20 ribu.
“Baik Ayah, assalamualaikum….”
“Waalaikumsalam….”
“Ah daripada buat ongkos mending buat jajan bareng temen-temen, ke kampusnya jalan kaki aja, kan kampusnya ga jauh dari sini, kalau naik angkot pasti lama, macet lagi.” Ucapku dalam hati.
Aku pun mulai melangkah tak sabar ingin cepat sampai kampus  bertemu teman-teman gang-ku. Terdengar suara klakson bersahutan, mereka pasti bukan orang yang kalem seperti ayahku, kunikmati perjalanan ini dengan senyum, menyenangkan juga berjalan di tengah kota yang sibuk penuh dengan kendaraan karena macet.
Serasa jalan ini milikku sendiri semuanya diam di dalam mobil sedangkan aku berjalan dengan nikmatnya.
Di sini, di trotoar ini kunikmati perjalanan menuju kampus. Hamper 2/3 perjalanan, kampusku semakin dekat mendekati perempatan dengan traffic light-nya.
“Oh…ternyata di perempatan ini yang jadi biang kemacetannya. Ada aksi turun ke jalan dari para waria (coba pilih, wanita setengah pria atau wanita berbadan pria???) dan ada juga para wanita pekerja esex-esex, sebut saja PSK, jangan ragu-ragu! Mereka membagikan bunga dan selebaran kertas bertuliskan “Hari AIDS Sedunia” mudah-mudahan saja aksi ini dapat bernilai positif tapi yang jelas aksi ini negative, negative banget bagi para pengendara kendaraan roda dua-tiga-empat bahkan lebih, dan yang pasti traffic jam lagi.
Terus berjalan menyusuri trotoar yang berdebu dengan sedikit menjejali sela-sela paving block. Ku berhenti sejenak di perempatan di jalan belang bercat putih atau sering disebut zebra cross.
Di sini, aku menunggu lampu hijau berhenti bersinar berganti dengan warna kuning lalu muncullah cahaya merah bersinar terang. Tapi lama karena ada aksi hari AIDS sedunia cahaya lampu hijau terasa tak berarti tetap saja kendaraan diam di tempat syukur-syukur bisa melaju dengan lambreta lammmmaaaaaaaaaaaa bangeeeeeeeeeeeet!!!
Saat lampu merah bersinar mereka turun ke tengah jalan membagikan bungadan selebaran kertas berisikan “Hari AIDS Sedunia” tapi saat cahaya merah berganti hijau mereka tetap sibuk dengan aksinya itu.
“Neng, mau nyebrang ya?” Tanya ibu muda di sebelahku.
“Iya bu.” Jawabku singkat.
“Jangan panggil ibu, panggil tante aja…”
Centil juga ibu itu dengan senyumnya yang kecentilan makin lengkap dengan wajah berlapiskan bedak yang sangat tebal, tak tahu berapa lapis mungkin ratusan.
“Ayo bareng sama Tante aja nyebrangnya…”
Belum sempat aku menjawab, eh..dia udah ngomong duluan dasar tante-tante.
Dengan sedikit tertawa ringan dalam hati, aku pun ikut menyebrang dengan tante itu. lucu… centilnya itu lho yang bikin geli, mungkin ia koodinator aksi para PSK ini??? Ih…amit-amit deh tante.
Akhirnya kaki kananku berpijak di trotoar lagi tapi trotoar yang satu ini lain, trotoar ini berdebu dijejali rumput dan tempat pejalan kaki, eh sama aja ya!!! Yang bikin beda trotoar ini, di sini kendaraannya melawan arah ku berjalan.
“Tidit…tidit…mmmmmbbbreeeem”
tiba –tiba saja ada bebek ber-knalpot lewat, ga tahu diri dasar bebek ga pernah belajar berhitung dan membaca!!! Masa lari di trotoar??? Padahal kan trotoar bukan tempat bebek jalan tapi untuk manusia, ngerti g aloe bek???!!!
“Wek..wek..wek….” eh, si bebek ngeledek!
Tidak seperti yang direncanakan, manusia memang tak bisa berbuat banyak. Jalan kaki maupun naik mobil sama-sama kena traffic jam!!! Tapi ga separah naik mobil, pasti traffic jam-nya parah, lama, kesel, and bikin bete banget!!!
“Neng neng…tunggu”
“perasaan ada yang manggil, tapi aku kan bukan neng, namaku juga bukan Neneng…aku kan Sheila.”
Dengan perlahan kuputar kepalaku 90 derajat, eh ternyata tante yang tadi.
“Neng, ini buku punya Neng bukan?”
“Oh…coba lihat, emm…bukan ini bukan punya saya bu, eh tante.”
“Oh…bukan punya Neng ya? Ini buat Neng”
Tante itu memberikanku bunga dan secarik kertas bertuliskan “Hari AIDS Sedunia”.
“Oh…makasih ya bu, eh tante”
Tante itu pun akhirnya pergi menjauhi diriku.
Kembali kulanjutkan perjalanan, tak terasa kampusku tinggal beberapa langkah lagi “hmm…harum juga bunga ini.” Sambil terus berjalan bunga it uterus kucium.
Langkah ini semakin ringan melangkah tak terasa gerbang kampus sudah terlihat, langkahku semakin cepat ingin segera zampai. Eh…perasaan aku kenal orang itu, orang yang sudah tidak asing lagi di hari ini. Ia berdiri di depan pos satpam dekat ATM kampus.
“Eh…Neng kuliah di sini ya?”
Tante yang tadi lagi, ngapain dia di sini? Ngerusak pemandangan kampus aja…
“Iya” kujawab singkat tanpa menghentikan langkahku. Langkahku semakin cepat saj, kembali kucium bunga itu tapi perasaan harum bunga ini semakin lama semakin harum. Tapi kok jadi pusing ya? Pusing banget…kok lemes gini ya???
“Braaaak…….”
“Wah…ada yang pingsan!!!”
“Itu pak ada yang pingsan”
“Dimana?”
“Di sana pak!”
“Mana???”
“Tunggu…tungguu, itu keponakan saya, sini bawa masuk ke mobil saya aja…”
Aku tersadar sejenak, aku mau dibawa kemana?
Seperti baru terbangun dari mimpi, aku ada dimana? Dengan kasur pegas empuk, di sampingku ada seorang pria dewasa telanjang dada berselimut.
“Oh my God???!!!”
Aku bergegas untuk bangun, apa yang sebenarnya terjadi? Raga ku pun tanpa busana, hanya ada selimut tebal menindih badanku.
“Oh…Neng cantik udah bangun ya?”
Ternyata tante itu lagi???!!! Ia tiba-tiba masuk membuka pintu kamar, jantungku seakan-akan berhenti berdetak, sejenak aku menahan nafas.
“Oh…”
ku berlari menabrak tante bedebah dengan bertelanjang kaki. Kakiku lebh ringan tuk melangkah, aku tendang tante bedebah itu ke arah jendela lalu kudorong ia keluar.
“Ahhhhhhhhhh……………………tolong tolong……….”
“Gubrag….” Dia jatuh ke bawah dari lantai 12 gedung ini.
Oleh: Yaya Mulya Mantri

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s