Memenuhi panggilan orang tua lebih penting dari solat sunat

Keridhaan Allah tergantung kepada keridhaan kedua orang tua dan murka Allah pun terletak pada murka kedua orang tua. (HR. Al Hakim)

Seorang anak bernama Abdul tersenyum ketika mendengar gurunya menerangkan tentang berbuat baik kepada orang tua. Sang Guru mengutip hadis di atas, “Keridhaan Allah tergantung kepada keridhaan orang tua……..”. Mengapa Abdul tersenyum? Ternyata Abdul sudah merasa menjadi anak yang berbakti kepada orang tua. Abdul memang dikenal sebagai anak yang baik, ia juga memiliki budi pekerti yang baik. Selain itu, Abdul juga rajin beribadah, Solat-Solat Sunat dikerjakan, Saum Sunat Senin-Kamis juga tidak pernah absen, jika ada rezeki ia tidak lupa memberi sebagian untuk orang tuanya, dan yang paling penting ia selalu mendoakan kedua orang tuanya. Makanya Abdul merasa hadist ini gue banget, pas banget dengan kehidupannya.

Sang Guru berkata “Dalam Islam berbakti kepada orang tua sangatlah penting, bahkan pahalanya disejajarkan dengan pahala berjihad, seperti yang tersirat dalam hadis ini:”

Seorang datang kepada Nabi Saw. Dia mengemukakan hasratnya untuk ikut berjihad. Nabi Saw bertanya kepadanya, “Apakah kamu masih mempunyai kedua orangg tua?” Orang itu menjawab, “Masih.” Lalu Nabi Saw bersabda, “Untuk kepentingan mereka lah kamu berjihad.” (Mutafaq’alaih)

Abdul semakin serius menyimak perkataan gurunya, di dalam hatinya ia berdoa “Ya Allah…jadikan aku anak yang berbakti kepada orang tua, berikan aku sikap istiqomah atas amalan-amalan yang selama ini sudah kulakukan, amin.”

“Murid-muridku, masih semangat mendengar penjelasan Bapak?” Sang Guru bertanya.
“Masih Pak….” Semua murid menjawab serentak termasuk Abdul yang duduk paling depan.

“Baiklah, Bapak lanjutkan, dalam sebuah hadis riwayat Abu Hurairah ra., ia berkata:

Seorang yang bernama Juraij sedang salat di sebuah tempat peribadatan, lalu datanglah ibunya memanggil. (Kata Humaid: Abu Rafi` pernah menerangkan kepadaku bagaimana Abu Hurairah ra. menirukan gaya ibu Juraij memanggil anaknya itu, sebagaimana yang dia dapatkan dari Rasulullah saw. yaitu dengan meletakkan tapak tangan di atas alis matanya dan mengangkat kepala ke arah Juraij untuk menyapa.) Lalu ibunya berkata: Hai Juraij, aku ibumu, bicaralah denganku! Kebetulan perempuan itu mendapati anaknya sedang melaksanakan salat. Saat itu Juraij berkata kepada diri sendiri di tengah keraguan: Ya Tuhan! Ibuku ataukah salatku. Kemudian Juraij memilih meneruskan salatnya. Maka pulanglah perempuan tersebut. Tidak berapa lama perempuan itu kembali lagi untuk yang kedua kali. Ia memanggil: Hai Juraij, aku ibumu, bicaralah denganku! Kembali Juraij bertanya kepada dirinya sendiri: Ya Tuhan! Ibuku atau salatku. Lagi-lagi dia lebih memilih meneruskan salatnya. Karena kecewa, akhirnya perempuan itu berkata: Ya Tuhan! Sesungguhnya Juraij ini adalah anakku, aku sudah memanggilnya berulang kali, namun ternyata dia enggan menjawabku. Ya Tuhan! Janganlah engkau mematikan dia sebelum Engkau perlihatkan kepadanya perempuan-perempuan pelacur. Dia berkata: Seandainya wanita itu memohon bencana fitnah atas diri Juraij niscaya ia akan mendapat fitnah. Suatu hari seorang penggembala kambing berteduh di tempat peribadatan Juraij. Tiba-tiba muncullah seorang perempuan dari sebuah desa kemudian berzinalah penggembala kambing itu dengannya, sehingga hamil dan melahirkan seorang anak lelaki. Ketika ditanya oleh orang-orang: Anak dari siapakah ini? Perempuan itu menjawab: Anak penghuni tempat peribadatan ini. Orang-orang lalu berbondong-bondong mendatangi Juraij. Mereka membawa kapak dan linggis. Mereka berteriak-teriak memanggil Juraij dan kebetulan mereka menemukan Juraij di tengah salat. Tentu saja Juraij tidak menjawab panggilan mereka. Akhirnya mulailah mereka merobohkan tempat ibadahnya. Melihat hal itu Juraij keluar menemui mereka. Mereka bertanya kepada Juraij: Tanyakan kepada perempuan ini! Juraij tersenyum kemudian mengusap kepala anak tersebut dan bertanya: Siapakah bapakmu? Anak itu tiba-tiba menjawab: Bapakku adalah si penggembala kambing. Mendengar jawaban anak bayi tersebut, mereka segera berkata: Kami akan membangun kembali tempat ibadahmu yang telah kami robohkan ini dengan emas dan perak. Juraij berkata: Tidak usah. Buatlah seperti semula dari tanah. Kemudian Juraij meninggalkannya. (Shahih Muslim No.4625)

Abdul tersentak mendengar hadis yang dijelaskan oleh gurunya, ia teringat beberapa bulan yang lalu ia lebih memilih melanjutkan Solat Duha daripada memenuhi panggilan ibunya. Abdul merasa Solat lebih penting dari seruan orang tua. Bahkan ia lebih memilih berdoa setelah selesai Solat Duha, setelah selesai Solat Duha dan berdoa barulah Abdul memenuhi panggilan ibunya.

“Umi, ada apa? Abdul tadi Solat mi” Abdul berkata kepada ibunya.
“Udah selese ko Dul, Umi sekarang udah ga butuh bantuan” jawab ibunya Abdul.
Mendengar jawaban ibunya, Abdul tidak merasa bersalah sedikit pun, karena toh ia lagi ibadah, lagi Solat, berdoa, berdoa untuk orang tuanya juga, untuk Uminya. Namun ternyata Allah tidak ridho, Allah tidak atas perbuatan Abdul ini.

Raut wajah Abdul berubah, senyumannya berubah menjadi wajah penuh penyesalan. “Astagfirulloh…Astagfirulloh…Astagfirulloh…Astagfirulloh” Abdul berucap lirih dalam hati, ia berjanji akan meminta maaf kepada ibunya dan berjanji tidak akan mengulangi kesalahannya kembali.

Kadang seorang anak suka merasa paling bener, apalagi kalau sudah disekolahin sampai berilmu melebihi ilmu orang tuanya. Padahal kita bisa berilmu karena orang tua, hadis ini memposisikan orang tua sebagai pintu (pra syarat) kita mendapat ridho Allah. Bahkan Solat Sunat dan amalan-amalan sunat lainnya bisa kalah dengan seruan orang tua, Subhanalloh…

Seorang sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, siapa yang paling berhak memperoleh pelayanan dan persahabatanku?” Nabi Saw menjawab, “ibumu…ibumu…ibumu, kemudian ayahmu dan kemudian yang lebih dekat kepadamu dan yang lebih dekat kepadamu.” (Mutafaq’alaih).

Oleh: Yaya Mulya Mantri

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s