Identitas Seorang Muslim (1)

Sebagai seorang muslim yang dimulai sejak lahir, Siti dididik dan dibesarkan di tengah lingkungan keluarga muslim. Saat ia dilahirkan, ia disambut lantunan adzan oleh ayahnya di telinga kanannya dan lantunan iqomat di telinga kirinya. Tujuh hari kemudian, Siti diberi nama, dicukur rambutnya, dan di-aqiqah-kan dengan menyembelih satu ekor kambing. Semuanya sesuai dengan syariat Islam, seperti yang tertuang dalam hadis berikut ini:

”Setiap anak yang dilahirkan itu terpelihara dengan aqiqahnya dan disembelihkan hewan untuknya pada hari ketujuh, dicukur dan diberikan nama untuknya.” (HR. Imam yang lima, Ahmad dan Ashabush Sunan dan dishohihkan oleh Tirmidzi)

Dari Salman bin ‘Amir Ad-Dhabiy, dia berkata : Rasululloh bersabda : “Aqiqah dilaksanakan karena kelahiran bayi, maka sembelihlah hewan dan hilangkanlah semua gangguan darinya.” [Shahih Hadits Riwayat Bukhari (5472), untuk lebih lengkapnya lihat Fathul Bari (9/590-592), dan Irwaul Ghalil (1171), Syaikh Albani]

Dari Samurah bin Jundab dia berkata : Rasulullah bersabda : “Semua anak bayi tergadaikan dengan aqiqahnya yang pada hari ketujuhnya disembelih hewan (kambing), diberi nama dan dicukur rambutnya.” [Shahih, Hadits Riwayat Abu Dawud 2838, Tirmidzi 1552, Nasa’I 7/166, Ibnu Majah 3165, Ahmad 5/7-8, 17-18, 22, Ad Darimi 2/81, dan lain-lainnya]

Berbeda dengan Siti, Sri adalah anak dari keluarga bangsawan jawa yang memegang teguh adat istiadat Jawa. Sejak dalam kandungan Sri sudah disuguhi oleh upacara adat istiadat Jawa, tepatnya ketika umur kandungan 7 bulan. Ritual ini disebut Tingkepan atau lebih dikenal dengan Mitoni. Dalam pelaksanaan upacara tingkepan, ibu yang sedang hamil tujuh bulan dimandikan dengan air kembang setaman, disertai dengan doa-doa khusus.

Siraman dilakukan oleh sesepuh sebanyak tujuh orang. Bermakna mohon doa restu, supaya suci lahir dan batin. Setelah upacara siraman selesai, air kendi tujuh mata air dipergunakan untuk mencuci muka, setelah air dalam kendi habis, kendi dipecah. Memasukkan telur ayam kampung ke dalam kain (sarung) calon ibu oleh suami melalui perut sampai pecah, hal ini merupakan simbul harapan supaya bayi lahir dengan lancar, tanpa suatu halangan.

Siti dan Sri mendapat perlakuan yang berbeda dari masing-masing keluarganya. Siti mendapat perlakuan yang diajarkan oleh Nabi Muhammad, sedangkan Sri mendapat perlakuan dari leluhur keluarganya. Upacara adat tentu saja berbeda dengan ritual keagamaan, terutama agama Islam karena Islam adalah agama samawi paling muda yang berfungsi menyempurnakan agama sebelumnya. Seiring berjalannya waktu, sebagian orang meninggalkan adat istiadat yang dirasa tidak sesuai lagi dengan keadaan zaman sekarang. Namun masih ada sebagian kecil orang yang keukeuh melakukan ajaran leluhurnya itu, bahkan ada juga yang memodifikasi upacara adat dengan ajaran agama (contoh: tahlilan). Sah-sah saja mereka lakukan itu, asal tidak melenceng dari ajaran Islam. Namun ada satu poin penting yang harus diingat, bahwa ajaran Islam tak akan bisa diubah oleh keadaan zaman, berbeda dengan adat istiadat yang bisa berubah.

Referensi:

http://www.rahmatallahaqiqah.com/

http://deltapapa.wordpress.com/2008/11/27/upacara-adat-jawa-untuk-bayi/

Oleh: Yaya Mulya Mantri

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s