WANGSALAN DALAM BAHASA JAWA

Gambar

I Dewa Putu Wijana

Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada

ABSTRAK

Walaupun bahasa Jawa hingga sekarang ini masih memiliki jumlah penutur terbesar di antara beberapa bahasa daerah yang ada di Nusantara,  akibat perkembangan zaman dan arus globalisasi, gejala punahnya beberapa genre sastra tradisional yang merupakan kekayaan  bahasa ini sudah  tampak di mana-mana.  Keadaannya kian lama kian mengkhawatirkan apabila tidak ada upaya yang serius untuk menyelamatkannya. Salah satu kekayaan budaya yang dihawatirkan hilang itu adalah wangsalan, yakni formula-formula singkat yang makna  dan maksud pengutaraannya dipertalikan oleh kesamaan bunyi. Misalnya carang wreksa  [cabang pohon ‘pang’] bertalian bunyi  dengan maksudnya  gampang ‘mudah’, wrekso wilis tanpa patra [pohon hijau tanpa daun ‘kayu urip’] bertalian bunyi dengan maksudnya urip‘hidup’. Dengan terlebih dahulu melakukan pengamatan yang saksama terhadap wangsalan yang terdapat di dalam buku-buku pelajaran bahasa, lagu-lagu, situs-situs blogspot, dan introspeksi diri setelah tinggal bertahun-tahun bersama-sama masyarakat jawa, makalah ini akan berusaha memaparkan bentuk, jenis, fungsi komunikatif, dan referensinya.

1. Pengantar

Dari beratus-ratus bahasa daerah yang ada di Indonesia, hingga saat ini bahasa Jawa merupakan bahasa yang jumlah penuturnya paling besar.  Akan tetapi, jumlah penuturnya yang besar bukanlah merupakan jaminan bahwa bahasa daerah ini akan secara setia dipertahankan oleh para penuturnya sehingga bahasa ini akan terus bisa bertahan di tengah derasnya arus golbalisasi dan modernisasi bersaing melawan bahasa-bahasa yang notabena secara sosial, politis dan kultural dipandang  lebih berpengaruh dan lebih berprestise, seperti bahasa Indonesia dan berbagai bahasa asing, khususnya bahasa Inggris. Bukti-bukti yang menunjukkan semakin pudarnya pemakaian bahasa Jawa sekarang ini tampak dari berbagai gejala. Misalnya saat  ini semakin banyak generasi muda penutur bahasa  langkah Jawa sudah tidak lagi fasih menggunakan bahasa jawa, terutama ragam bahasa Jawa Krama, atau ragam-ragam yang biasa digunakan di dalam situasi-situasi yang sedikit formal.Bahkan, banyak di antara mereka, terutama yang berada di perkotaan yang berumur 12 tahun ke bawah tidak lagi menggunakan bahasa Jawa secara aktif walaupun untuk mendengarkan dan membaca meraka masih mampu. Kesenian-kesenian yang berakar pada budaya Jawa, seperti ketoprak, wayang kulit, dsb.hanya digemari sebagian besar oleh  generasi-generasi tua. Pementasan-pementasan kesenian itu seringkali kurang penonton. Sebagai dampaknya, banyak genre-genre sastra tradisional yang erat berkaitan dengan penggunaan bahasa Jawa, seperti paribasan, sanepa, pepindhan, parikan, cangkriman, wangsalan, dsb. tidak lagi banyak dikenal sekarang ini, dan dikhawatirkan akan punah dalam beberapa generasi ke depan. Sehubungan dengannya,  perlu dilakukan berbagai langkah untuk mencegahnya dari kepunahan itu. Makalah ini akan berusaha mendeskripsikan salah satu genre sastra lisan Jawa, yakni wangsalan dari segi bentuk,jenis, dan maksud pengungkapannya.

Wangsalan adalah formula-formula singkat yang bentuknya bertalian secara fonologis dengan maksudnya. Misalnya wangsalan (1) Jenang sela, wader kali sesonderan maksudnya adalah ‘apuranta yen wonten lepat kawulo’. Hubungan itu didapat setelah dilakukan usaha penghubungan sebagai berikut  Jenang selo (‘bubur batu’  mengacu padakapuryang berhubungan secara fonologis dengan apur(anto) ‘maafkan’)dan wader kali sesondheran ( ‘sejenis ikan kali’ mengacu pada ‘sepat’  yang berhubungan secara fonologis pada lepat (salah)) sehingga secara keseluruhan wangsalan itu memaksudkan ‘Maafkan jika ada kesalahan saya’.  Contoh lainnya adalah (2)roning mlinjo (‘daun mlinjo’ mengacu pada ‘so’ yang berhubungan secara fonologis dengan ngaso ‘istirahat’), (3) anak kethek (‘anak kera’  mengacu pada  munyuk yang berhubungan secara fonologis dengan maknyuk  ‘dekat hampir sampai’).

2. Bentuk Wangsalan

Dilihat dari aspek bentuknya semua wangsalan dalam bahasa Jawa berbentuk frase nomina atributif, yakni terdiri dari nomina sebagai unsur pusat (UP) dan unsur lain sebagai atributnya. Lebih jauh atribut frase nomina itu dapat dibedakan  menjadi dua jenis, yakni ada yang berstatus sebagai pembatas dan ada pula yang berstatus sebagai penerang. Untuk jelasnya dapat diperhatikan beberapa wangsalan di bawah ini:

(4) Jahe wana > jahe (UP) + wana (atribut pembatas)

jahe hutan  (puyang) > maksudnya puyang payingan ‘bingung’.

(5) Damar mancung > Damar (UP) + mancung (atribut pembatas)

Lampu seludang  (upet) > maksudnya cupet ‘sempit’

(6) Jenang gula > jenang (UP) + gula (atribut pembatas)

Bubur gula  (gulali) > maksudnya lali‘lupa’

(7) Petis manis> petis (UP) + manis (atribut penerang)

Petis manis (kecap) > maksudnya ngocap ‘berkata’

(8) Klapa mudha  > klapa (UP) + mudha (atribut penerang)

Kelapa muda (degan) > maksudnyalegan(ana) ‘hiburlah, bahagiakanlah’

Dilihat dari jumlah kata yang menyusunnya, wangsalan yang paling panjang terdiri dari 4 kata, yakni (9) teja bengkok nyirup toya dan (10) wreksa wilis tanpa patra. Sebuah wangsalan terdiri dari tiga , (1) yakni wader kali sesonderan. Selebihnya wangsalan terbentuk dari dua buah kata. Dilihat dari jumlah suku katanya wangsalan yang terdiri dari dua kata terbentuk dari empat suku kata, dan yang terdiri dari empat kata terbentuk dari 8 suku kata.  Hanya saja, ada 2 buah wangsalan yang kehadirannya selalu bersama-sama  sehingga bentuknya lebih panjang (dua ruas), seperti (10)carang wreksa, wreksa wilis tanpa patra dan (1) jenang sela, wader kali sesondheran.Untuk tipe yang terakhir ini terdiri dari 12 suku kata. Walaupun sering terdapat kesamaan kata akhir bagian yang pertama dengan kata awal bagian yang kedua, bagian-bagian wangsalan itu terjalin dengan hubungan yang bersifat parataksis, bukan hipotaksis (Kridalaksana, 1992, 155).

Dari seluruh datayang terkumpul terlihat bahwa kesamaan bunyi yang mempertalikan bentuk dan maksud sebuah wangsalan minimal berupa kesamaan suku kata akhir, atau ditambah dengan kesamaan satu atau beberapa bunyi di depannya,atau dalam kasus yang sangat jarang kesamaannya bersifat menyeluruh. Wangsalan (11) dan (12),dan (13) di bawah ini memperlihatkan kesamaan suku akhir.

(11) Pupus tebu (tunas anak tebu):  geleges maksudnya teges ‘makna’ kesamaannya pada ges.

(12) Witing pari (batang padi): damen maksudnya dimen ‘supaya’ kesamaannya pada men.

(13) Sarung jagung (seludang jagung): kelobot maksudnya abot ‘berat’ kesamaannya pada bot.

Sementara itu, wangsalan (14), (15), dan (6) di bawah ini kesamaannya terletak pada suku akhir dan beberapa bunyi di depannya.

(14) Pring dhempet (bambu dempet, tangga): andha maksudnya kandha ‘berkata’ kesamaannya

padaandha.

(15) Balung janur (tulang daun kelapa, lidi): sada maksudnya usada ‘obat’ kesamaannya pada  sada

(6) Jenang gula (bubur gula): gulali maksudnya lali ‘lupa’ kesamaannya pada lali.

Akhirnya wangsalan (10) di atas  memiliki kesamaan yang menyeluruh antara referen dan maksudnya. Dalam hal ini ada kemungkinan urip ‘nama sejenis pohon’ dengan urip ‘hidup’ memiliki hubungan yang bersifat homonimi atau polisemi, seperti halnya kata pinang dan meminang dalam bahasa Indonesia.

(10) Wreksa wilis tanpa patra (pohon hijau tak berdaun, urip):  urip maksudnya urip ‘hidup’ kesamaannya pada urip.

Sebagai salah satu bentuk genre sastra lisan dari segi bentuk wangsalan menunjukkan beberapa kekhasan.Paling tidak ada tiga kekhasan yang dapat ditunjukkan di sini.Pertama, Beberapa wangsalan menampakkan pemarkah gramatika literer. Adapun pemarkah yang dimaksud adalah –ing ‘nya’, seperti (12) witing pari ‘batang pari’ dan (16) roning mlinjo ‘daun mlinjo’ yang secara berturut-turut maksudnya dimen ‘biar’ dan ngaso ‘istirahat’

Kedua, sejumlah wangsalan memanfaatkan gaya bahasa metafora untuk mengungkapkan keindahan sekaligus menyembunyikan maksud pengutaraannya sehingga hanya orang-orang yang memiliki “kepiawaian” pada batasan yang tertentu dapat menafsirkan maknanya. Misalnya wangsalan (15) balung janur, (13) sarung jagung, (17) gendera bakmi, (18) garu rikma, dan (19) balung pakel  adalah sejumlah wangsalan yang memanfaatkan metafora. Balung janur (15) (tulang daun kelapa)  membandingkansadha ‘lidi’ dengan tulang; sarung jagung (13) membandingkan kelobot dengan sarung;  gendera bakmi (17) membandingkan irisan kol atau kubis  denganbendera; garu rikma (18) membandingkan sisir (rambut)  dengan garu; balung pakel (19) membandingkan biji (sejenis) mangga dengan tulang.

Ketiga, memang ada beberapa wangsalan yang terbentuk dari kata-kata biasa, seperti anak kethek (3) (munyuk>maknyuk ‘langsung sampai), klapa mudha(8) (degan>legan ‘bahagiakan’), (20)janur gunung (aren>kadingaren ’mengapa baru kali ini), (21) sunduk sate (sujen>ijen ‘sendirian), dsb., tetapi banyak wangsalan yang dibentuk dengan kata-kata bahasa Jawa lama yang memiliki nilai literer yang lebih tinggi dari kata-kata bahasa Jawa biasa. Misalnya kata wreksa ‘pohon’,  wilis ‘hijau’, patra ‘daun’ dalam wangsalan (10)carang wreksa,  wreksa wilistanpa patra ‘pohon hijau tak berdaun’, kata teja ‘sinar’ dalam wangsalan (9)teja bengkok nyirup taya ‘sinar lengkung menghisap air’ (kluwung ‘pelangi’ > aluwung ‘lebih baik’), kata sarpa dan langking dalam wangsalan (22)sarpa langking ‘ular hitam’ (dumung ‘sejenis ular yang berwarna hitam’ > amung ‘hanya’), dan kata seta dalam wangsalan semut seta(23) ’semut putih’ (rayap ‘rayap’ > layap-layap ‘samar-samar’).Padahal, bahasa Jawa memiliki kata-kata biasa untuk memadani kata-kata bahasa Jawa lama itu.Perhatikan daftar padanan kata berikut:

Wreksa  = wit ‘pohon’             Wilis      = ijo  ‘hijau’           patra = godhong ‘daun’

Teja = cahya ‘sinar                   sarpa    = ula ‘ular’             langking = ireng ‘hitam

    Seta = putih ‘putih’

 

3. Jenis-jenis wangsalan

Jenis-jenis wangsalan dapat dibedakan berdasarkan beberapa kreteria. Kreteria-kreteria  itu adalah unsur  pembentuknya, cara pemaknaannya, dan situasi pemekaiannya. Berdasarkan unsur pembentuknya dibedakan antara wangsalan tunggal dan wangsalan rangkep. Wangsalan tunggal adalah wangsalan yang bentuknya  sederhana, yakni terdiri dari satu bagian, yakni (20)janur gunung(daun kelapa gunung, aren >kadingaren,  tumben), (24) wader bungkuk (wader ‘sejenis ikan sungai ‘ bongkok>  urang, kurang), nyaron bumbung (25) (sejenis gamelan dari bambu, angklung >cengklungan, lama sekali), dsb.

Wangsalan rangkap adalah wangsalan yang bentuknya kompleks, yakni terdiri dari 2 bagian, seperti (10)carang wreksa, wreksa wilis tanpa patra(ora gampang wong urip ning ngalam donya ‘tidak gampang orang hidup di dunia’), jenang sela, wader kali sesonderan(apuranta yen wonten lepat kawula ‘Maafkan jika ada kesalahan saya’).Hal-hal selebihnya telah dibahas dalam seksi 1 perihal bentuk wangsalan. Berdasarkan cara pemaknaannya dapat dibedakan antara wangsalan lamba dan wangsalan memet.Klasifikasi ini agaknya mirip denganklasifikasiyang dilakukan pada sengkalan(kronogram) (Sudira, 2003, 119).

Wangsalan lamba adalah wangsalan yang pemaknaannya dapat dilakukan sekali. Misalnya wangsalan Wong kok mentil kacang (26) ‘Orang kok seperti buah kacang muda’ ini maksudnya  Orang kok hanya cemberutkarena pentil kacang memiliki acuan yang sama dengan mbesengut yang secara aksidental berhomonim dengan mbesengut yang bermakna ‘cemberut’. Contoh lainnya adalah  (27) Mrica kecut, togna wae sak uni-unine(Merica asam, biarkan saja dia berbicara semaunya) karena mrica kecut ‘merica asam’ dalam bahasa Jawa memiliki acuan yang sama dengan wuni ‘buni (antidesma bunius)  yang memiliki kesamaan bunyi dengan uni (bunyi atau kata). Wangsalan memet adalah wangsalan yang penafsiran maksudnya tidak dapat dilakukan sekali, tetapi harus dilakukan secara bertahap. Misalnya wangsalan (28)uler kambang ‘ulat mengambang’  maksudnya adalah alon-alon ‘pelan-pelan’. Akan tetapi, untuk sampai pada maksud ini, orang harus mengupas makna uler kambang itu  dengan lintah‘ lintah’ yang memiliki kesamaan bunyi dengan saktitahe‘sesampainya, tidak memaksakan diri’, lalu dari sinilah kemudian ditemukan maksud  alon-alon ‘pelan-pelan’.

Akhirnya berdasarkan kriteria situasi pemakaiannya wangsalan dapat dibedakan menjadi wangsalan biasa dan wangsalan literer. Wangsalan biasa adalah wangsalan yang lazim digunakan di dalam pemakaian bahasa sehari-hari, seperti (20)njanur gunung (aren> kadingaren ‘tumben’), (6) jenang gula (gulali> lali ‘lupa’), dsb. dan wangsalan literer adalah wangsalan yang lazinya digunakan di dalam” karya-karya sastra karena mengandung kata-kata yang indah (edi peni), seperti (29)wohing aren, pangocapane janma nendra (kolang kaling > eling ‘ingat’, nglindur  ‘mengigau` >Dipun eling, sabar nir ing angkara ‘ingat, kesabaran akan menjauhkan diri dari angkara murka) dan (30)wohing tanjung, becik njunjung bapa biyung (kecik: ‘buah tanjung’ > becik ‘baik’ > lebih baik memuliakan bapak dan ibu (orang tua).

4. Fungsi komunikatif wangsalan bahasa Jawa

Setelah memperhatikan secara cermat semua data wangsalan yang terkumpul, dapat diketahui bahwa wangsalan di dalam bahasa digunakan oleh penutur-penuturnya untuk mengungkapkan berbagai fungsi komunikatif. Setidak-tidaknya hampir semua fungsi komunikatif bahasa yang penting (utama) yang digariskan oleh para ahli (walaupun dengan peristilahan yang berbeda-beda) diperkirakan dapat ditemui pengungkapannya dengan wangsalan.Fungsi-fungsi itu misalnya fungsi representatif untuk menginformasikan atau menyatakan sesuatu, ekspresif untuk mengungkapkan perasaan, fungsi direktif untuk menyuruh seseorang melakukan atau tidak melakukan sesuatu, fungsi  poetik untuk mengungkapkan keindahan, dan fungsi fatis untuk memelihara memulai, mempertahankan, dan mengakhiri  hubungan  (periksa Holmes, 1995, 286; Jakobson, 1960, 350-77; Leech, 1983, 205, Wijana, 2010, 110-119). Misalnya wangsalan (31), (32), dan (33) di bawah ini di samping kemungkinannya membawa fungsi komunikatif yang lain, dapat pula digunakan untuk mengungkapkan fungsi representatif, yaitu menyatakan atau memberitakan sesuatu:

(31) Dheweke lagi njangan gori, ethok-ethok orang krungu.

‘Dia sedang seperti sayur nangka, pura-pura tidak mendengar’

(32) Balung geni, mbok menawa dolan mrene.

‘Bara api, mungkin ia akan main ke sini’

(33)  Kukus gantung, sawangane kok bingung.

Asap bergantung, kelihatannya (raut wajahnya) kok bingung’

Jangan gori‘sayur nangka’ mengacu pada referen gudheg memiliki kesamaan dengan budheg‘tuli’.Balung geni ‘tulang api’ mengacu pada mawa ‘bara’ memiliki kesamaan dengan menawa ‘barangkali’. Kukus gantung ’asap bergantung’mengacu padasawangan’kotoran yang melekat dilangit-langit rumah’ memiliki kesamaan dengan sawangan yang bermakna ‘raut wajah’.

Pemakaian wangsalan dalam contoh (1), (13), dan (25) berikut ini digunakan untuk menyatakan atau mengungkapkan perasaan. Dengan kata lain, wangsalan ini digunakan untuk menjalankan fungsi ekspresif bahasa:

(1) jenang sela, wader kali sesonderan.

‘Bubur batu, ikan wader sungai , berselendang’

(13) Sarung jagung, abote wong kabacut tresna.

‘Seludang  jagung, beratnya orang yang telanjur cinta’

(25) Nyaron bumbung, cengklungan aku ngenteni

‘Saron bambu, lama sekali aku menunggu’

Wacana (1) digunakan untuk memohon maaf karena maksudnya adalah Apuranta yen wonten lepat kawula ‘Maafkan jika ada kesalahan saya’ Maksud ini didapat dari jenang selayang mengacu pada kapur yang memiliki kesamaan bunyi dengan apuranta “maafkan’ dan wader kali sesonderan  ‘ikan wader berselendang’ yang mengacu pada ikan sepat yang memiliki kemiripan bentuk dengan lepat ‘kesalahan’. Wangsalan (13) digunakan untuk mengungkapkan perasaan mengenai beratnya kewajiban orang yang telanjut mencintai seseorang.Maksud ini tersirat dari ungkapan sarung jagung ‘seludang pembungkus jagung’ yang mengacu pada klobot mirip bunyinya dengan abot ‘berat’.

Wangsalan (25) digunakan untuk mengungkapkan perasaan betapa lama dan membosankannya orang menunggu. Maksud ini diungkapkan lewat satuan saron bumbung ‘saron (sejenis instrumen musik) bambu’ yang mengacu pada angklung‘angklung’ yang mirip bunyinya dengan cengklungan ‘lelah dan membosankan’.

Pemakaian wangsalan dalam (34), (6), dan (16) di bawah ini dimaksudkan  untuk mengungkapkan fungsi direktif, yakni secara berturut-turut untuk menyarankan agar orang  mencari cinta yang sejati (34), melarang agar orang tidak lupa (6), memohon untuk beristirahat (21).

(34) Reca kayu, golekana kang setuhu.

‘Arca kayu, carilah (cinta) yang sejati’

(6) Jenang gula, kowe aja lali

‘Bubur gula, kamu jangan (lah) lupa’

(21) Roning mlinjo, sampun sayah nyuwun ngaso.

                       ‘Daun mlinjo, sudah lelah, mohon istirahat’

Reca kayu ‘arca kayu’  mengacu pada golek ‘wayang kayu’  yang berhomonim dengan golek ‘mencari’. Jenang gula ‘bubur gula’ mengacu pada gulali yang mirip bunyinya dengan lali ‘lupa’.

Roning mlinjo ‘daun mlinjo’ mengacu pada Soyang mirip bunyinya dengan ngaso ‘istirahat’. Dari pengamatan selintas agaknya fungsi direktif pada wangsalan menduduki peringkat yang pertama karena sebagai salah satu genre  sastra, wangsalan memang memiliki amanat untuk secara halus mengarahkan dan mengubah perilaku manusia, perilaku masyarakat yang memilikinya.

Fungsi poetik wangsalan, yakni sebagai pengungkapan keindahan sangat menonjol dalam wangsalan. Hal ini terlihat dari berbagai seginya, seperti persajakan akhir (Kukus gantung, sawangane kok   bingung; reca kayu golekna kang setuhu, dsb), perulangan kata akhir bagian awal dan kata awal bagian akhir (Carang wreksa, wreksa wilis tanpa patra;  (35) Yaksa dewa, dewa dewi lir denawa ‘raksasa dewa’ (betara kala), dewa dewi lir denawa ‘dewa perempuan berwujud raksasa’ (batara durga)> kala mudha, bangkit  ambengkas durgama ‘ketika muda, bangkit memberantas angkara murka), pemakaian afiks-afiks ragam sastra, seperti –ing, ((36) roning kamal ‘daun asam’ (sinom > nom ‘muda’), -in((37) Balung janur, janur inesenan boga ‘tulang daun kelapa (sada) ‘lidi’, janur diisi makanan kupat ‘ketupat’ > lepat ‘luput’ >widodoa, lepat saking sambikala ‘semoga sejahtera luput dari segala mara bahaya’. Selain itu, wangsalan sarat dengan metafora dan pemakaian kata-kata bahasa Jawa arkhais.

Akhirnya wangsalan (20) berikut  lazim digunakan untuk mengungkapkan fungsi fatis, yakni membentuk hubungan (kontak) dengan lawan bicara yang sudah lama tidak datang berkunjung. Janur gunung adalah aren yang memiliki kemiripan dengan kadingaren ‘tumben, dari sekian lama tidak’.

(20) Kok  janur gunung?

‘Mengapa, janur gunung?’ (Mengapa tumben kamu datang kemari)

Di dalam berbagai seni pertunjukan wangsalan (21) di atas memungkinkan menjalankan fungsi fatis untuk mengakhiri pertunjukan tersebut.

5. Referensi Wangsalan

Sebagai masyarakat agraris, masyarakat jawa sangat kaya dengan kata-kata yang mengacu pada bidang-bidang pertanian, seperti nama pohon, tanaman, dan hewan-hewan yang dekat dengan aktivitas itu. Selain itu, kekhususan bahasa Jawa yang secara semantik dapat membedakan bagian-bagian tanaman dari batang, daun, bunga, buah, kulit, dan biji, serta buahnya, nama-nama hewan dari muda dan dewasa merupakan bahan yang sangat berlimpah bagi penciptaan wangsalan bahasa Jawa. Sebagai masyarakat yang kreatif berkesenian, masyarakat jawa  memiliki berbagai kata untuk menunjuk instrumen musik tradisional beserta benda-benda yang erat berkaitan dengannya, seperti nama-nama pakaian, nama upacara, kesenian, dsb. Dalam hubungannya dengan kesenian, tokoh-tokoh wayang kulit merupakan sumber yang kaya sebgai inspirasi penciptaan wangsalan di dalam bahasa Jawa. Contoh-contoh wangsalan berikut menggunakan referensi tumbuhan (2, 4, 8), hewan (22, 23, 28), pakaian (38), makanan (6, 31, 17), dan tokoh wayang (39, 40) sebagai referensinya:

(2) roning mlinjo

(4) Jahe wana

(8) Klapa mudha

(22) sarpa langking

(23) semut seta

(28) uler kambang

(38) wastra tumrap mustaka

(6) jenang gula

(31) Jangan gori

(17) gendera bakmi

(39) alite wara sumbadra

(40) Anjani putra

Wastra tumrap mustaka(38) ‘pakaian di kepala’ mengacu pada iket ‘destar’ maksudnya riniket ‘diikat’, alite Wara sumbadra(39)mengacu padaRara Ireng maksudnya lara ‘sakit’, dan Anjani putra (40)anak laki-laki Dewi Anjani mengacu pada Anoman maksudnya nom ‘muda’.

6. Catatan Penutup

Era industrialisasi dan globalisasi, serta salahnya arahawal  kebijakan bahasa nasional yang semata-mata ingin menggalakkan pemakaian bahasa Indonesia secara langsung, mengakibatkan semakin berkurangnya pemakaian bahasa-bahasa daerah, termasuk bahasa Jawa. Tidak tertutup kemungkinan lama kelamaan akan menyebabkan bahasa daerah-bahasa daerah  itu akan  punah yang cepat lambatnya tergantung dari jumlah penutur dan sikap bahasa penuturnya. Padahal, punahnya sebuah bahasa akan menyebabkan punahnya kebudayaan-kebudayaan  lokal yang di dalam konteks Indonesia menjadi sendi kebudayaan nasional. Untuk menghindari semua ini, satu-satunya jalan ialah menggalakkan kembali penggunaan bahasa daerah yang menjadi bahasa ibu berbagai etnis di Indonesia. Usaha ini baru akan terwujud bila disertai dengan usaha merevitalisasi dan melestarikan kebudayaan lokal dalam artian yang seluas-luasnya. Akhirnnya makalah ini akan saya tutup dengan puisi bahasa Indonesia yang berjudul  Wangsalan:

WANGSALAN

Dari keindahan baris-baris kata

Terbersit siratan makna

Coba  kautemukan kebenaran semesta di dalamnya

Carang wreksa

Wreksa wilis tanpa patra

 

Carang wreksa itu pang  selaras dengan gampang

Wreksa wilis tanpa patra itu urip, senapas dengan hidup

Hidup  di dunia tidak gampang

Penuh cabang aral  melintang

Kalau  kauanggap gampang

Segalanya akan hilang

Salah-salah nyawamu akan melayang

Karenanya dalam diri harus selalu kaubisikkan

“Ingat dan Waspada”

(I Dewa Putu Wijana, dari kumpulan “Tanah Lot”)

 

BIBLIOGRAFI

Holmes, Janet, 1995. An Introduction to Sociolinguistics, London: Longman.

Jakobson, R., 1960, “Linguistics and Poetics”, dalam Style in Language, Sebeok, T.A. (ed.), Cambridge: Mass. MIT Press.

Kridalaksana, Harimurti, 1992, Kamus linguistik,Edisi ke-3, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Leech, G., 1983. Principles of Pragmatics , London: Longman.

Sudira, 2003, “Dinamika Budaya Kronogram dan Primbon dalam Wacana Global”, dalam Dinamika Budaya Lokal dalam Wacana Global, Sumiati A.S. (Eds.), Yogyakarta: Fakultas Ilmu Budaya.

Wijana, I Dewa Putu, 2010, Bahasa Gaul Remaja Indonesia,  Malang: Aditya Media.

Wijana, I Dewa Putu, 2012, Tanah Lot, Kumpulan Puisi, Yogyakarta:  Fak. Ilmu Budaya.

LAMPIRAN

(1) Jenang sela,  wader kali sesonderan

(2) roning mlinjo

(3) anak kethek

(4) Jahe wana

(5) Damar mancung

(6) Jenang gula

(7) Petis manis

(8) Klapa mudha

(9) teja bengkok nyirup toya

(10) carang wreksa, wreksa wilis tanpa patra.

(11) Pupus tebu

(12) Witing pari

(13) Sarung jagung

(14) Pring dhempet

(15) Balung janur

(16) roning mlinjo

(17) gendera bakmi,

(18)  garu rikma,

(19)  balung pakel

(20)  janur gunung

(21) sunduk sate

(22) sarpa langking

(23) semut seta

(24) wader bungkuk

(25)  nyaron bumbung

(27) Mrica kecut

(28) uler kambang

(29)  wohing aren, pangocapane janma nendra

(30) wohing tanjung

(31) njangan gori

(32) Balung geni

(33)  Kukus gantung

(34) reca kayu

(35) Yaksa dewa, dewa dewi lir denawa

(36) roning kamal

(37) Balung janur, janur inesenan boga

(38)wastra tumrap mustaka

(39) Kendhang alit, alite wara Sumbodra

(40) Anjani Putra

*Disampaikan dalam diskusi “Meningkatkan Ketahanan Budaya melalui Bahasa Ibu” diselenggarakan oleh Forum Ilmu Sosial Humaniora (FISH) Himpunan Mahasiswa Pascasarjana UGM (9/03).

Satu gagasan untuk “WANGSALAN DALAM BAHASA JAWA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s